Rencana pemerintah memberikan kompensasi bantuan langsung sementara masyarakat (Balsem) Rp 150 ribu/bulan untuk 4 bulan kepada 15,5 juta keluarga miskin pasca kenaikan harga BBM subsidi banyak dikritik. Apa penjelasan pemerintah?
Wakil Presiden Boediono mengatakan, Balsem mekanismenya mirip program bantuan langsung tunai (BLT) yang dulu pernah dibagikan pemerintah.
"Ini sebenarnya mekanismenya mirip BLT dulu, tapi ada perbaikan-perbaikan yang sudah kita lakukan. Terutama dalam hal sasarannya. Seperti diketahui, ini didasarkan oleh survei objektif oleh BPS yang kemudian diupdate dengan konsultasi dengan pemda terutama di tingkat desa dan kelurahan, dan akhirnya kita mendapatkan daftar penduduk Indonesia sampai dengan 40 persen dari segi tingkat sejahteranya," tutur Boediono dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Selasa (18/6/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena itu kami batasi 4 bulan saja. Barangkali tidak perlu dikhawatirkan karena itu berarti kita menghargai kecerdasan masyarakat kita yang sudah sangat rasional dalam memilih," ujar Boediono.
Mantan Gubernur Bank Indonesia ini mengatakan, Balsem sangat diperlukan masyarakat miskin pasca harga BBM subsidi dinaikkan. Balsem akan membantu daya beli masyarakat miskin.
Dari 40% rumah tangga miskin, pemerintah mengambil 25% yang paling miskin atau jumlahnya 15,5 juta untuk diberikan Balsem ini.
"Saudara sekalian menjelang nanti hari H-nya (BBM naik), tentu presiden akan memutuskan kapan, menunggu persiapan dari program-program (kompensasi) ini, maka kita harapkan masyarakat tenang sajalah. Jadi artinya tidak usah kita borong-borong BBM sebelumnya," ujarnya.
Selain Balsem, program kompensasi yang akan diberikan pemerintah pasca kenaikan harga BBM subsidi adalah tambahan jatah beras miskin (raskin), beasiswa miskin, serta program keluarga harapan (PKH).
(dnl/hen)











































