Data-data mengenai kemajuan Indonesia dan perspektifnya ke masa depan sangat menarik perhatian masyarakat internasional. Dengan kebijakan makro ekonomi yang sehat dan demokrasi yang stabil, Indonesia berhasil melesat sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat kedua dalam G-20 dan masuk the Trillion Dollars GDP Club (Kelompok Negara ber-PDB Triliun Dolar).
Boston Consulting Group memprediksi bahwa Indonesia kurang dari 7 tahun lagi akan memiliki 140 juta orang kelas menengah dan konsumen makmur (middle class and affluent consumers/MACs) pada 2020 nanti. Suatu lompatan nyaris dua kali lipat dari jumlah MACs sekarang yang sebanyak 74 juta orang.
Bahkan lembaga riset internasional McKinsey Global Institute memperkirakan bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ke-7 di dunia pada 2030. Suatu angka-angka dan perspektif yang menggembirakan. Tetapi mengapa masyarakat domestik terkesan skeptis dan negativisme mendominasi diskursus-diskursus yang ada?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tuan rumah penyelenggara konferensi ini adalah Friends of Europe, think tank-nya Uni Eropa, yang sekaligus bermarkas di gedung perpustakaan berusia lebih dari satu abad sejak diresmikan dulu sebagai Institut Sosiologi, Universitas Brussels (16 November 1902).
Audiens mengapresiasi capaian-capaian Indonesia, lembaga-lembaga riset internasional juga memberikan angka-angka sangat prospektif. Mengapa masyarakat domestik justru terkesan skeptis?
Ini memang menarik. Sementara masyarakat di luar negeri menghargai prestasi kita, tapi kita melihat dalam konteks dalam negeri banyak orang cenderung skeptis. Umumnya karena kita dalam kehidupan keseharian sangat didominasi oleh masalah-masalah yang dihadapi, seperti masih ada kemiskinan, stagnasi proses politik, bencana alam, terorisme. Kita cenderung lupa pada hutan besar "Indonesia" yang di dunia luar justru dilihat dan dihargai. Saya kira akan lebih baik kalau kita juga bisa melihat yang besar-besar itu.
Perlu melihat capaian yang besar-besar, tetapi bagaimana dengan persoalan-persoalan keseharian yang dihadapi masyarakat itu?
Ya, kita akui bahwa kita masih banyak menghadapi persoalan, tidak ada negara yang tidak mempunyai persoalan, termasuk juga negara-negara di Uni Eropa, tetapi kita harus mampu menghargai keberhasilan kita. Tidak mungkin kita menjadi bangsa maju dan besar kalau kita terus-menerus merasa lama terhimpit oleh krisis demi krisis, yang pada faktanya sudah tidak sepenuhnya demikian.
Bagaimana masyarakat bisa memahami hal ini, sementara himpitan itu masih dirasakan?
Mungkin baik juga untuk membuka mata domestik bahwa kita perlu mempunyai pengetahuan perbandingan, yang dengan begitu kita bisa menghargai diri kita lebih baik lagi, bahwa sebagai bangsa dalam 10 tahun reformasi kita telah berhasil mentransformasi diri dari pemerintahan otoriter menjadi pemerintahan demokratis.
Pada saat bersamaan kita juga bergerak maju secara ekonomi. Bandingkan bagaimana pergerakan maju ekonomi kita, sementara ekonomi dunia secara umum lesu. Eropa sendiri belum pulih dari krisis. Kita juga menikmati kondisi relatif damai dan aman, suatu yang belum pernah terjadi dalam sejarah selama 67 tahun Indonesia merdeka.
Ya, masalah korupsi dan lain-lainnya masih terus kita tangani, tapi kita jangan menutup mata terhadap kemajuan-kemajuan. Sebab kalau kita merasa terus-menerus terhimpit dan di pundak kita terhantui oleh beban demi beban krisis saya kira itu akan merugikan bagi langkah kita untuk maju.
Ini platform Uni Eropa. Judul yang diangkat Indonesia Matters: The Role and Ambitions of a Rising Power. Audiensnya juga kalangan penting para pengambil keputusan. Bagaimana hal ini harus dilihat?
Apa yang baru saja kita lalui, konferensi mengenai Indonesia Matters: The Role and Ambitions of a Rising Power, ini suatu fenomena baru di luar negeri dalam mereka memperhatikan Indonesia. Mereka yang semakin melihat dan menghargai potensi Indonesia dalam bidang ekonomi, tidak hanya Indonesia sebagai negara yang cukup positif tetapi diproyeksikan dalam 15 tahun mendatang sebagai kekuatan ekonomi terbesar ke-7 di dunia melampaui Jerman dan Inggris.
Konferensi seperti ini membuka mata para pengambil keputusan untuk --kalau mereka berbicara tentang Asia-- tidak cukup hanya berbicara tentang Cina dan India, tetapi juga Indonesia. Karena itu mereka ingin mendorong hubungan Indonesia-UE harus ditingkatkan tidak hanya melalui kemitraan ekonomi tetapi juga tingkat hubungan bilateral dalam kerangka kemitraan strategis.
Pusat-pusat kekuatan dunia sudah saatnya kini mengatakan welcome aboard, Indonesia?
Saya kira suatu hal yang logis. Kemudian laporan yang diterbitkan McKinsey tahun lalu tentang Indonesia yang akan menjadi kekuatan terbesar ke-7 di dunia. Ungkapan-ungkapan seperti itu yang membuat mata dunia juga semakin terbuka.
Dr. Hassan Wirajuda
- Tempat, tanggal lahir
- Tangerang, 9 Juli 1948
- Pendidikan Formal
- Harvard School of Law, Cambridge, Massachussetts, AS 1985
- Doctor of Juridical Science in International Law, Virginia School of Law Charlottesville, Virginia, AS 1987
- Karir
- Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Hubungan Luar Negeri (2010 β Sekarang)
- Menteri Luar Negeri Indonesia pada Kabinet Gotong Royong (2001-2004)
- Menteri Luar Negeri Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu (2004β2009)
- Aktivitas
- Pelindung Institute of Peace and Democracy (sekarang),
- Anggota Global Commission on Elections, Democracy and Security diketuai oleh Kofi Annan
- Editor-in Chief of Strategic Review -The Indonesian Journal of Leadership, Policy and World Affairs
- Proponen ASEAN Political and Security Community dan ASEAN Human Right Body.
- Membentuk Komisi HAM Indonesia dan terlibat aktif dalam sejumlah perundingan perdamaian yang penting.










































