Sugiarto, salah seorang sopir taksi berkisah omsetnya turun Rp 50.000 per hari setelah harga BBM bersubsidi naik. Hal ini dikarenakan argo tarif angkutannya belum disesuaikan.
"Tekor saya. Tekor Rp 50 ribu. Biasa ngisi bensin Rp 90 Ribu, jadi Rp 140 ribu. Untung sih masih ada, tapi turun Rp 50 ribu," katanya kepada detikFinance dalam perjalanan dari Jalan Tendean menuju Bandara Soetta, Senin (24/6/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kerja dari pagi sampai jam 12 malam. Pokoknya ilang 50 (ribu) lah. Tadinya buat bawa pulang," keluhnya.
Dikatakan Sugiarto, beberapa rekan seprofesinya bahkan memilih untuk beristirahat dan tidak beroperasi, buntut dari kenaikan BBM ini. Menurutnya, mereka menunggu sampai ada kejelasan terkait penyesuaian tarif.
"Banyak yang nggak narik. Izin pulang kampung, ngilaingin pikiran kali karena bensin naik, izin saja tapi bukan berhenti," kisahnya.
Pria yang berbicara dengan logat Jawa yang kental ini pun mengatakan, menurut informasi yang dia dapatkan, penyesuaian tarif akan dilakukan di pekan ini pada hari Kamis nanti.
"Kata temen-temen hari kamis besok, kata kantor mau ada rapat gitu. Tapi belum pasti," katanya.
Dia pun sedikit mengeluhkan kenaikan BBM bersubsidi yang dirasa dirinya cukup berat. Diketahui premium yang biasa ia gunakan naik Rp 2 ribu menjadi Rp 6.500/liter.
"Cukup gede juga kan, Rp 2 ribu kan bisa dipake buat ngopi di warung," katanya.
(zlf/dru)










































