Bahkan puncaknya, pengusaha memerlukan waktu tunggu dan bongkar muat (dwelling time) hingga 9 hari di Pelabuhan Tanjung Priok.
Managing Directur PT Cikarang Inland Port Benny Woenardi mengungkapkan, kejadian di Tanjung Priok saat ini persis sama dengan kejadian di Thailand 11 tahun silam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga mengungkapkan, kondisi Tanjung Priok yang saat ini terus menurun diakibatkan keterbatasan lahan. Padahal 60% lebih arus barang di Indonesia melalui Pelabuhan Tanjung Priok.
"Jadi 30 sampai 40 tahun lalu Tanjung Priok memang masih sepi. Priok itu warisan Pemerintah Belanda, dan Belanda sudah desain Tanjung Priok sampai ke Cempaka Putih dan Sunter. Sekarang lahan Priok semakin mengecil. Padahal 65% arus barang dan pergerakan manusia melalui pelabuhan ini," katanya.
Ditambah lagi, Pelabuhan Tanjung Priok saat ini sudah tidak steril. Pasalnya Pelabuhan Tanjung Priok sudah bersentuhan dengan pemukiman penduduk yang letaknya sangat berdekatan.
"Pelabuhan modern itu steril dan jauh dari aktifitas penduduk. Priok kini sudah bersentuhan dengan masyarakat. Priok sudah menyentuh puncaknya karena daya tampung yang terbatas. Kalau kapasitas penuh, proses masuknya kapal bisa terhambat. Kemudian ada cost tambahan yang harus dibayarkan pengusaha. Cost kita yang paling tinggi se-Asia Pasific. Investor tentu akan menghitung apalagi ketidakjelasan tinggi. Sehingga ini akan mengurangi investasi," jelasnya.
(wij/dnl)











































