Dikirimi SMS dari Peternak, Suswono Terima Curhatan Soal Pungli

Dikirimi SMS dari Peternak, Suswono Terima Curhatan Soal Pungli

- detikFinance
Rabu, 17 Jul 2013 16:17 WIB
Dikirimi SMS dari Peternak, Suswono Terima Curhatan Soal Pungli
Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Suswono bercerita mendapatkan SMS (pesan singkat) dari peternak sapi yang mengeluhkan panjangnya rantai distribusi dari sentra-sentra sapi ke Jakarta. Bahkan panjangnya rantai distribusi itu diperparah dengan pungutan liar (pungli) sepanjang perjalanan.

"Saya dapat SMS dari peternak, untuk mengangkut sapi dari daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) ke Jakarta panjang sekali step yang harus dihadapi," ungkap Suswono ketika berbincang di Kantornya seperti dikutip Rabu (17/7/2013).

Dikatakan Suswono, mengangkut sapi dari NTT ke Pelabuhan harus mengeluarkan dana yan tidak sedikit, banyak ongkos dari yang resmi sampai yang tidak resmi harus dikeluarkan, mulai dari ongkos blantik (pengumpul), kuli angkut, sewa truk angkut sapi, surat cek kesehehatan sapi dan lainnya sampai bayar uang keamanan (preman).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sampai di Surabaya angkut ke Jakarta harus melewati 10 pos keamanan, pos pemeriksaan sapi, ongkos sewa kandang, ongkos keamanan yang diminta preman," ungkapnya.

"Sampai di Jakarta bayar ini itu dan pungutan-pungatan liar (pungli) lainnya, bayar kuli muat lagi, surat cap daging sehat dan banyak lagi dan juga ongkos preman lagi," ucapnya.

Suswono mengatakan untuk ongkos mengangkut sapi dari NTT ke Jakarta jauh lebih mahal dari pada impor langsung dari Australia ke Jakarta. "Harus ada pembenahan tata niaga sapi, masa bawa sapi dari NTT ke Jakarta ongkosnya lebih mahal dari impor sapi dari Austrilia ke Jakarta," ungkap Suswono.

Sementara itu Direktur Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro mengatakan untuk mengangkut sapi dari NTT ke Jakarta menggunakan kapal kargo yang kosong.

"Karena kapal kargo barang yang dari NTT balik ke Jakarta kosong, jadinya diisi sapi, namun karena bukan peruntukannya, diperjalanan sapi-sapinya kekurangan makanan dan minuman," ucap Syukur.

"Akibatnya harga bobot hidup daging yang harusnya Rp 35.000 per kilo mengalami susut diperjalanan menjadi hanya Rp 20.000 per kolo bobot hidup," tambahnya.

Syukur mengungkapkan harus ada perbaikan transportasi dan pembenahan di pelabuhan. "Jangan sampai seperti saat ini harga sapi di daerah murah dikirim ke Jakarta melonjak harganya," kata Syukur.

(rrd/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads