“Tadi saya tanya ke pedagang, katanya daging Rp 95 ribu/kg. Malah ada yang sudah 100 ribu per kilogram. Kalau menjelang Lebaran, yang ada harga pasti naik bukannya turun,” kata Nurul, ibu rumah tangga berusia 30 tahun itu, kesal, kepada DetikFinance.
Kalau masih begitu, apa boleh buat. Nurul cemas, keluarganya tak mungkin lagi menikmati daging sapi sebanyak yang biasanya untuk dibuat rendang dan sop. Yang penting, jangan sampai lebaran minus masakan itu. Menurutnya tak nendang kalau lebaran dirayakan tanpa rendang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menyiasati hal itu, Nurul sudah berencana akan membeli daging ayam atau ikan yang lebih banyak. Menu lebaran akan lebih banyak opor ayam atau ikan goreng. Sementara rendang dan sop daging, harus dikurangi.
Tentang daging impor, Nurul mengaku memang mendengarnya. Apalagi harganya katanya di bawah harga daging sapi tradisional yang dijual pedagang. Tapi para pedagang rupanya kurang berminat terhadap daging impor beku dari Australia yang dibanderol antara Rp 75 ribu – Rp 85 ribu itu.
Menurut para pedagang yang ditemui Nurul, mereka enggan membeli daging impor karena tak punya alat penyimpanan. Sebab, kalau dijual sampai daging mencair, bobotnya turun. “Lagipula menurut mereka kualitasnya kurang bagus,” kata Nurul. Mendengar itu, Nurul pun emoh mencobanya.
Tapi tidak dengan Diana, 40 tahun, seorang ibu rumah tangga yang lain. Tak tahan dengan harga daging yang tinggi, dia coba-coba membeli daging impor dari pedagang langganannya “Kalau bagus, nanti beli lebih banyak untuk Lebaran,” katanya.
Diana tak mempersoalkan keputusan pemerintah soal impor-mengimpor daging atau sapi potong. “Pokoknya buat kita yang penting harganya murah. Apalagi sudah mau lebaran begini,” katanya.
Tak hanya konsumen yang mengeluh. Pedagang juga merasakan dampak tak baik akibat tingginya harga daging. Omzet penjualan mereka menurun.
“Dulu stok dagangan saya sehari hampir 50 kg, dan itu habis. Sekarang saya stok sehari 20-30 kg, itu pun tidak habis semua. Kata pembeli, harganya kemahalan,” kata Mahmud, pedagang daging sapi di pasar Kebayoran Lama.
Dengan modal Rp 87-88 ribu per kilogram, mau tak mau Mahmud menjual Rp 95-100 ribu per kilogram. Tapi dengan penjualan yang turun, keuntungannya pun ikut berkurang. Bisa meraih omzet Rp 1,5 juta saja sudah luar biasa. “Dulu bisa membawa pulang omzet Rp 3 juta per hari,” ujarnya.Mahmud bilang dirinya pernah ikut membeli daging beku di operasi pasar yang digelar pemerintah. Saat itu dia bisa membeli daging sapi beku seharga Rp 64 ribu per kilogram. Tapi, kualitas daging itu ternyata mengecewakan. “Banyak gajihnya, begitu diseset beratnya turun. Teksturnya juga tidak sebagus daging segar. Banyak pembeli yang mengeluh,” katanya.
Sejak saat itu, Mahmud tak mau lagi berurusan dengan daging impor operasi pasar. Meski harus mengeluarkan modal lebih banyak, dia tak peduli. “Yang penting bagus dan laku,” tutur dia.
Sebenarnya, apa yang menyebabkan harga daging begitu mahal? Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia, Khudori, mengatakan ada beberapa faktor. Di antaranya adalah kesalahan hitung pemerintah sehingga memangkas kuota impor padahal kebutuhan amat tinggi, kendala distribusi sehingga ada perbedaan harga yang tinggi antara produsen dan konsumen, serta pasar yang tidak efisien.
“Solusi jangka pendek ya impor,” kata Khudori kepada DetikFinance, pada akhir pekan lalu.
(DES/DES)











































