"Program saat ini sudah benar. Tetapi pemerintah juga harus memikirkan nasib petani sapi lokal. Jangan sampai petani menjerit," kata General Manager PT Lembu Jantan Perkasa, Said Zulvalutvy, sewaktu ditemui detikFinance di kantor PT Lembu Jantan Perkasa, Jalan Mileter KM-01, Desa Darangdan, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Senin (29/7/2013).
Menurut Said, perlu pembahasan bersama antara stakeholder dan pihak terkait serta pemerintah sebagai pegambil kebijakan perihal penambahan kuota impor sapi di Indonesia. "Sudah saatnya ke depan itu berbenah tata niaga impor sapi mulai dari hilir," ucapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bisa eggak misalnya seperti beras. Sapi ini diserap oleh pemerintah. Serap juga sapi punya petani. Ya pemerintah memberikan bibit kepada petani, oleh petani diternak dan dijual sapi itu dengan harga kompetitif," saran Said.
Kemendag menerbitkan Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 699/M-DAG/KEP/7/2013 tentang Stabilisasi Harga Daging Sapi pada 18 Juli 2013 dan akan berakhir pada 31 Desember 2013. Kebijakan impor sapi siap potong itu diputuskan dalam Rapat Koordinasi Terbatas Bidang Perekonomian yang dilaksanakan pada 17 Juli 2013 lalu di Kantor Menteri Koordinator.
"Kalau stabil harganya berarti 'kan distop. Artinya, penambahan kuota impor sapi itu berakhir hingga Desember mendatang. Nah, apakah setelah itu harga tetap stabil? Belum tentu juga. Maka itu untuk kebijakan ke depannya terutama soal kuota impor sapi ini perlu pembahasan lebih lanjut," tutur Said.
Sementara itu salah satu pedagang sapi impor di Pasar Caringin Bandung, Ahmad Nurjaman (36), menyampaikan pernyataan senada. "Petani-petani sapi lokal di Indonesia ini harus lebih diperhatkan lagi. Berikan mereka pembinaan serta solusi. Sehingga petani sapi ini bisa berkontribusi terkait kebutuhan daging sapi bagi masyarakat," kata Ahmad.
Ahmad selama ini memang mayoritas meyediakan daging sapi impor asal Australia yang diperolehnya dari perusahaan feedlot. Sapi itu jenis Brahman Cross (BX). Kenapa memilih sapi impor
"Tidak semua sapi lokal itu kualitasnya jelek dan bagus. Begitupun sapi dari Australia," jelas Ahmad sewaktu ditemui di Rumah Potong Hewan (RPH) Cirangrang, Jalan Kopo, Kota Bandung, Senin (29/7/2013).
"Cuma memang ada bedanya. Sebagai pedagang yang tiap hari jualan daging sapi, penyedia sapi impor ini memiliki pasokan dan harga yang stabil. Nah, kalau penyedia sapi lokal selama ini enggak begitu. Sekarang pesan sapi lokal, belum tentu besoknya datang. Bahkan harus menunggu seminggu datangnya. Atau misalnya harga hari ini sapi hidup lokal itu 10 juta rupiah, besoknya berubah jadi 11 juta rupiah," papar Ahmad mengakhiri perbincangan.
Pedagang sapi lainnya di Pasar Cikutra, Yayat (32), berharap pemerintah lebih serius menggarap swasembada sapi lokal. "Saya 'kan pengecer. Pelanggan terbiasa mengonsumsi daging lokal. Kalau berpindah ke sapi impor, saya khawatir kehilangan pelanggan," singat Yayat.
(bbn/dru)










































