“Harga seporsi nasi rendang memang saya naikkan Rp 1000, tapi bukan karena harga daging yang mahal tapi memang setiap bulan puasa kami naikkan segitu,” kata Deny di salah satu restorannya di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, pada akhir pekan lalu.
Deny bilang, menaikkan harga lebih tinggi dari itu bukan langkah bijak pada bulan-bulan puasa seperti ini. Risikonya, keuntungan jadi berkurang lantaran modal yang dikeluarkan untuk berbelanja sekitar 20 kilogram daging sapi saban hari semakin besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian Perdagangan sendiri berharap harga daging terus turun setelah mencapai rekor tertinggi Rp 95.007 per kilogram pada 9 Juli lalu. Sebulan terakhir, harga daging sapi rata-rata Rp 90 ribu per kilogram.
Pemerintah memang menggelar operasi pasar sejak 20 Juli hingga sehari menjelang Idul Fitri pekan depan. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Srie Agustina, mengatakan langkah itu telah menekan harga antara Rp 2.500-8.000 per kilogram.
Srie mengatakan, Kementerian Perdagangan menargetkan harga turun sampai Rp 76 ribu per kilogram pada dua hari menjelang lebaran. “Kami terus menghimbau dan merangkul pelaku usaha, baik importir dan pedagang,” ujarnya.
Impor memang langkah yang diambil pemerintah untuk mengatasi harga daging sapi yang menggila. Lewat Perum Bulog, pemerintah menggelontorkan sekitar 57 ton daging sapi asal Australia ke pasar. Bulog akan mengimpor total 3.000 ton lagi.
Daging impor dilepas seharga Rp 75-85 ribu. Sedangkan bagi pedagang, daging dibanderol Rp 67 ribu per kilogram.
Selain daging, pemerintah juga mengimpor sapi siap potong. Menteri Perdagangan Gita Wiryawan mengatakan besok malam akan tiba 1.500 ekor sapi siap potong di Pelabuhan Tanjung Priok, yang akan langsung didistribusikan.
Tapi, ada juga tawaran solusi alternatif lainnya. Contohnya yang dicetuskan Ismed Hasan Putro, Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia. Mereka mengklaim bisa menurunkan harga daging sapi menjadi hanya Rp 50 ribu per kilogram. Syaratnya, mereka diberi alokasi impor.
Ismed mengatakan pihaknya sudah mengajukan izin impor sapi potong, sapi bakalan, dan daging beku. Dengan usaha RNI dari hulu sampai ke hilir, Ismed haqul yakin RNI tak menebar janji surga.
RNI disebut memiliki peternakan sapi di Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat, rumah pemotongan hewan, serta jaringan distribusi ritel. RNI juga berencana membeli 1 juta hektare lahan peternakan sapi di Australia, yang proposalnya segera diajukan ke Kementerian Badan Usaha Milik Negara.
"Kami punya sumber daging sapi di Australia. Kami punya semua, pendanaan punya. Kami prepare dengan tangan sendiri,” kata Ismed, kepada DetikFinance. Tapi masalahnya, lampu hijau dari pemerintah belum menyala.
Solusi sudah diambil tapi nada pesimistik masih santer terdengar di kalangan pedagang. Mereka kuatir impor daging dan sapi tak ada pengaruhnya. “Sekarang harga daging di pasar masih Rp 95 ribu-100 ribu per kilogram. Ini karena daging impor kurang diminati,” tegas Ngadiran, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APSSI), kepada DetikFinance pada akhir pekan lalu.
Menurut Ngadiran, daging impor kurang diminati pedagang karena kualitasnya kurang bagus. Daging yang disediakan masih beku, dan belum diseset. Selain itu, daging beku harus segera diproses dan tidak bisa tahan lama ketika sudah keluar dari pendingin. Di pasar tradisional, tidak banyak pedagang yang memiliki pendingin.
“Kita tidak tahu daging itu umurnya sudah berapa lama. Bisa saja dipotong setengah tahun yang lalu. Pedagang memang lebih memilih daging segar yang baru dipotong di RPH (Rumah Pemotongan Hewan),” kata Ngadiran.
Ngadiran pesimistis target harga Rp 76 ribu/kg pada dua hari menjelang Lebaran bisa tercapai. “Nanti ujung-ujungnya pemerintah akan saling menyalahkan,” ujar Ngadiran.
(DES/DES)











































