Penyebabnya justru hadir dari dapur Mattel sendiri, yakni kehadiran seri Monster High. Boneka-boneka monster ini terus menggerus penjualan Barbie sejak kemunculan seri monster itu pada 2010. Hal ini diakui petinggi Mattel sendiri.
βKami memperkenalkan franchise baru yang telah memanaskan industri ini,β kata CEO Mattel, Bryan Stockon. βBrand Barbie tampaknya memang terkena dampak kesuksesan mereka.β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Barbie anyar itu akan mencoba menjangkau pengguna yang akrab dengan gadget. Produk yang akan menembus pasar pada musim liburan ini akan menambahkan seri kereta api Barbie dan kuda tunggangan, dengan fitur-fitur kuda interaktif.
Lalu ada Cermin Makeover Digital Barbie yang mengubah tablet iPad menjadi cermin interaktif. Juga termasuk Baju Boneka Digital Barbie dengan teknologi layar sentuh LED yang memungkinkan pengguna mendesain sendiri baju boneka-bonekanya secara digital.
Terlepas dari itu semua, industri mainan memang masih amat tergantung pada anak-anak dan remaja putri yang ternyata adalah pelanggan terbesar industri boneka. Bagi Mattel sendiri, meski penjualannya drop, angka pelanggan remaja putri tercatat naik 6 persen.
Begitu pun di kubu Hasbro, pesaing Mattel. Penjualan mainan ketegori perempuan di perusahaan itu naik sampai 43 persen. Sementara mainan anak cowok buatan Hasbro, yang biasanya tergantung pada rilis film-film tentang superhero, terpapar kegagalan film The Avengers atau The Amazing Spider-Man masuk box-office. Dampaknya, penjualan mainan cowok Hasbro turun 35 persen pada kuartal ini. Hasbro harap-harap cemas menunggu tahun depan, saat film anyar New Transformers dan Spiderman dirilis, disusul film terbaru Avengers dan tiga film baru Star Wars. Hasbro berharap ada angin perubahan. Perusahaan ini masih memegang lisensi pemasaran pernak-pernik Star Wars sampai 2020.
(DES/DES)











































