Bos Bulog: 10% Kebutuhan Daging Sapi Harus Dikuasai Pemerintah

Bos Bulog: 10% Kebutuhan Daging Sapi Harus Dikuasai Pemerintah

Wiji Nurhayat - detikFinance
Rabu, 14 Agu 2013 15:35 WIB
Bos Bulog: 10% Kebutuhan Daging Sapi Harus Dikuasai Pemerintah
Jakarta - Harga daging sapi sampai saat ini masih cukup tinggi. Padahal beberapa kebijakan termasuk importasi daging sudah dilakukan pemerintah.

Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso memberikan saran kepada pemerintah langkah ke depan yang harus dilakukan agar harga daging sapi tetap stabil sepanjang tahun.

"Bandingkan dengan beras saja, Bulog mampu mempunyai stok 8 hingga 10% harga beras saat ini stabil. Jika kita berbicara stabilisasi harga maka 8 sampai 10% kebutuhan daging sapi harus dikuasai pemerintah kalau mau stabil," kata Sutarto saat berdiskusi dengan media di Kantor Pusat Bulog Jakarta, Rabu (14/8/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Total seluruh kebutuhan daging masyarakat Indonesia selama satu tahun adalah 500.000 ton dengan asumsi konsumsi 2,2 kg/kapita/tahun. Tahun 2013 ini, pemerintah hanya memberikan alokasi impor sebanyak 80.000 ton sisanya disediakan pasokan daging lokal.

Namun ditengah jalan, ternyata perhitungan pemerintah meleset, mau tidak mau pemerintah menambah alokasi impor. Salah satunya adalah penunjukan impor 3.000 ton daging sapi beku kepada Bulog dan pembebasan alokasi kuota impor untuk daging khusus (prime cut) dan sapi siap potong.

Oleh karena itu, ke depan, Sutarto berharap pemerintah lebih cermat menghitung kebutuhan daging sapi dan pasokan sapi lokal.

"Yang paling utama adalah ketersediaan sapi yang dipotong melalui peternak dalam negeri dan feedloter. Ini yang harus dihitung. Kalau benar dihitungnya harga bisa dikendalikan dengan baik," imbuhnya.

Kemudian pemerintah juga harus menguasai pola distribusi daging dari hulu hingga hilir. Cara ini penting agar tidak ada jalur distribusi yang sengaja dihambat

"Sebelum masuk konsumen daging didapat melalui pedagang pasar atau industri pengolahan/supermarket dalam bentuk olahan dan sebagainya. Sebagian masuk ke Horeka atau pedagang mie dan bakso (Apmiso) melalui distributor. Kalau rumah tangga daging didapat melalui pedagang pasar. Kalau distributor macet ya mau nggak mau sektor Horeka ini dapatkan daging melalui pedagang pasar," tuturnya.

"Distributor itu dagingnya dari RPH (rumah pemotongan hewan) dan atau importir daging sapi. Dari RPH ini, mendapatkan sapinya dari feedlot atau dari peternak sapi dalam negeri. Jadi ini sudah terbentuk. Jadi kalau kita ingin memperbaiki harga kita melihatnya dari hilir ke hulu," jelas Sutarto.

(wij/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads