Dampak rentetan penguatan nilai tukar dolar terhadap rupiah kian berlanjut, kini para perajin tempe tahu kena imbasnya.
Mereka mengeluh lonjakan harga kedelai yang terus merayap naik dalam sepekan terakhir akibat rupiah melemah terhadap dolar AS. Maklum saja hampir 80% kedelai di dalam negeri dipasok dari impor.
"Perajin tempe tahu mengeluh harga kedelai berfluktuasi dalam waktu sebelum Lebaran masih normal, sampai Lebaran seminggu harga eceran tertinggi Rp 8.000/Kg sekarang Rp 8.500 dan Rp 8.700 dalam seminggu sudah bergerak (di Jabodetabek)," kata Ketua II Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) Sutaryo kepada detikFinance, Jumat (23/8/2013)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Istilahnya kalau harga kedelai berfluktuasi kita bisa jual tempe tapi nggak bisa beli lagi kedelainya," kata Sutaryo yang juga Ketua Bidang Usaha Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) Jakarta Selatan ini.
Ia menambahkan jauh sebelum terjadi pelemahan nilai tukar rupiah, para perajin nyaman dengan harga kedelai yang berkisar Rp 7700/Kg. Kini kenyataannya berkata lain, harga kedelai di daerah malah sudah tembus Rp 9.000/Kg.
Sutaryo menjelaskan, harga kedelai terus naik dari yang dijual oleh importir. Alasannya sebelumnya importir mematok kurs dolar AS di level Rp 10.000 kini menjadi Rp 11.000 atau ada kenaikan 10%.
"Kedelai itu impor terkait langsung ada kenaikan kurs 10%. Sehingga harga kedelai benar-benar naik luar biasa, minggu-minggu ini," katanya. (hen/dnl)











































