Agustus, Upah Nominal Buruh Tani Naik 0,56 Persen

Agustus, Upah Nominal Buruh Tani Naik 0,56 Persen

- detikFinance
Senin, 01 Nov 2004 15:45 WIB
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata upah nominal buruh tani secara nasional pada Agustus 2004 naik 0,56 persen dari Rp 11.051 pada Juli 2004 menjadi Rp 11.113. Meski mengalami peningkatan upah nominal buruh tani cenderung stagnan. Jika dibandingkan dengan Agustus 2003, rata-rata upah nominal tersebut naik 12,50 persen sedangkan secara riil naik sekitar 2,18 persen. Menurut Kepala BPS Choirul Maksum dalam jumpa pers di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (1/11/2004), rata-rata upah nominal di Pulau Jawa pada Agustus 2004 naik 2,231 persen dari Rp 9.452 pada Juli 2004 menjadi Rp 9.671. Namun jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya rata-rata upah di Pulau Jawa naik 15,99 persen sedangkan upah riil naik 4,5 persen. Sementara untuk luar Pulau Jawa rata-rata upah nominal turun 1,54 persen dari Rp 13.874 pada Juli 2004 menjadi Rp 13.660. Namun jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya angka tersebut naik 8,42 persen, sedangkan upah riilnya turun 2,42 persen.Rata-rata upah bulanan pembantu rumah tangga pada Oktober 2004 naik 0,16 persen dibandingkan September dari Rp 145.699 menjadi Rp 145.932. Namun secara riil turun 0,40 persen. Dan jika dibandingkan dengan Oktober 2003 naik 9,64 persen.Sementara rata-rata upah buruh industri pada triwulan IV 2003 naik 2,94 persen dibanding triwulan III 2003 yakni dari Rp 723.000 menjadi Rp 744.000. Secara riil angka ini naik 4,1 persen. Demikian pula jika dibandingkan triwulan IV 2002 yang naik 17,39 persen.Survey terkait upah buruh ini didukung oleh Bank Pembangunan Asia yang memberi bantuan berupa technical assistance. Menurut Kepala Perwakilan ADB di Indonesia, indikator upah riil ini sangat membantu untuk mengetahui dampak negatif krisis beberapa saat yang lalu.Nilai Tukar PetaniSementara terkait dengan perkembangan nilai tukar petani (NTP) dan perkembangan harga produsen gabah, Choirul mengatakan pada Agustus 2004 NTP tercatat 103,99 atau turun 1,66 persen dibandingkan NTP Juli. Kondisi ini terjadi karena petani hanya dapat menjual hasil produksinya dengan harga 1,08 persen lebih rendah dari harga Juli 2004.Dijelaskan Choirul dari 23 provinsi yang diamati selama Agustus, kenaikan NTP terjadi di Sulut 21,84 persen karena harga cengkeh naik 9,63 persen. Sedangkan penurunan terbesar terjadi NTB minus 114,82 persen karena harga padi turun 19,53 persen. Selain itu pada Agustus 2004 inflasi di pedesaaan Indonesia tercatat 0,18 persen atau lebih tinggi dari inflasi dari daerah perkotaan 0,09 persen. Sementara untuk perkembangan produsen gabah pada Oktober 2004, rata-rata naik dibandingkan bulan sebelumnya dimana GKS naik 3,61 persen, GKP naik 4,44 persen dan gabah kualitas rendah naik 0,63persen. BPS tidak menemukan petani yang melakukan transaksi gabah kering giling pada Oktober 2004. Tapi rata-rata harga gabah GKS masih dibawah harga pembelian pemerintah. (nit/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads