Pengusaha Chairul Tanjung memaparkan beberapa model pembangunan ekonomi yang dijalankan di negara-negara lain di dunia. Ada 4 negara yang memiliki kekhususan dan pembelajaran bagi Indonesia.
"Saya rasa tidak ada salahnya kita melihat beberapa model pembangunan ekonomi yang dijalankan di beberapa negara lain di dunia. Saya hanya akan membandingkan secara ringkas kondisi di 4 (empat) negara yang saya rasa memiliki kekhususan dan pembelajaran bagi Indonesia," kata CT, sapaan akrab Chairul Tanjung.
Ia menyampaikan hal tersebut dalam Pidatonya pada Sidang Universitas Airlangga Dalam Rangka Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa Bidang Ilmu Ekonomi, Senin (26/7/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Acara ini dihadiri para sivitas akademika Unair, termasuk para guru besar, Majelis Wali Amanat, dan pimpinan Unair. Ribuan tamu hadir berasal dari berbagai kalangan, baik dari kalangan akademisi, birokrat, politisi, pengamat, kalangan pengusaha, anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN), pimpinan media, dan anggota keluarga Chairul Tanjung.
Hadir juga para menteri Kabinet Indonesia Bersatu II seperti Mendikbud Prof Dr M Nuh, Mensesneg Sudi Silalahi, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Menkominfo Tifatul Sembiring, Menpora Roy Suryo, Menakertrans Muhaimin Iskandar, Mentan Suswono, dan Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz.
Lalu ada juga Ketua DPR Marzuki Alie, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah yusuf, mantan ketua PP Muhammadiyah Syafi'i Ma'arif, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, dan lain-lain.
Chairul Tanjung dianugerahi Dr HC di bidang ekonomi pembangunan. Chairul Tanjung, yang merupakan pengusaha nasional dan ketua KEN, akan menyampaikan pidato dengan judul 'Menuju Indonesia Maju, Berkeadilan dan Sejahtera untuk Semua.
Apa saja 4 negara tersebut? Mari simak satu per satu.
1. Swedia
|
|
CT mengungkapkan Swedia adalah negara yang mendorong peningkatan kesejahteraan dengan fokus industri berbasis IPTEK dan berorientasi ekspor.
Swedia bertransformasi dari negara yang bergantung pada hasil alam menjadi negara berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi, dan mendorong ekspor manufaktur.
"Di dunia internasional, Swedia dikenal sebagai negara asal dari berbagai merek ternama dunia, seperti Volvo, Ericsson, IKEA, H&M, dll. Swedia menganut sistem ekonomi terbuka secara global dan memiliki sistem regulasi yang sangat transparan," papar CT.
Menurut Bos CT Corp ini, pemerintah Swedia membiayai jaminan sosial dari penerimaan pajak. Namun demikian, Pemerintah menjalankan decisive corporate tax reform, yang berdampak pada rendahnya pajak perusahaan sehingga meningkatkan produktivitas sektor swasta.
"Pembelajaran dari Swedia tentu tidak dapat sepenuhnya kita anggap relevan dengan kondisi yang dihadapi Indonesia. Swedia adalah negara dengan penduduk yang jauh lebih sedikit dari Indonesia. Secara geografis, Swedia hanya 2,3% dari total luas Indonesia. Namun demikian transformasi Swedia dari negara yang bergantung pada hasil alam menjadi negara berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi, seharusnya dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia," ungkapnya.
2. Taiwan
|
|
"Taiwan mengembangkan sistem ekonomi yang berfokus pada pasar internasional. Ekspor didorong terus. Secara internal, pembangunan didasarkan atas administrasi pertanahan yang efisien. Perencanaan dan pengendalian bangunan fisik perumahan yang efektif berada di tangan pemerintah," ungkap CT.
Sektor konstruksi pun didukung oleh pengadaan semen murah dan berkualitas melalui dukungan riset. Di sisi pendi- dikan, Taiwan memiliki kebijakan pendidikan yang visioner, dengan perhatian yang sangat besar terutama perhatian terhadap anak-anak keluarga petani.
"Sekali lagi, pelajaran dari Taiwan tidak serta merta sepenuhnya relevan bagi Indonesia. Penduduk Taiwan tidak sampai 10% penduduk Indonesia, luas wilayahnya pun hanya setengah dari Pulau Jawa," kata Dia.
Begitu pula, kekuatan politik Taiwan di dunia internasional juga lebih terbatas. Namun demikian satu pembelajaran yang sangat penting diambil dari kasus Taiwan adalah adanya budaya dan pola pikir maju.
"Satu negara tidak akan menjadi negara maju jika penduduknya tidak memiliki budaya dan pola pikir maju ini," tutur CT.
3. Korea Selatan
|
|
Pendiri CT Corp ini mengatakan walaupun krisis ekonomi Asia di akhir dekade 1990-an memberi imbas yang sangat signifikan kepada Korea Selatan, namun Korea Selatan diakui sebagai salah satu perekonomian Asia yang dapat pulih dari situasi krisis tersebut dengan relatif cepat.
Perekonomian Korea Selatan berorientasi pada pasar. Transformasi ekonomi dari basis industri dengan high labor intensive menjadi ba- sis ekonomi masa depan.
"Salah satu kunci lainnya dari kebangkitan ekonomi Korea adalah efisiensi birokrasi, yang juga dimungkinkan oleh aplikasi teknologi dalam pengelolaan pemerintahan. Di sisi pendidikan, Korea Selatan mengutamakan aplikasi matematika dan sains terapan sejak tahun 1970," katanya.
Sekali lagi, sambungnya Korea Selatan memang adalah satu model perekonomian yang dapat memberi pembelajaran bagi transformasi ekonomi Indonesia. Namun tidak seluruhnya pula relevan. Faktor demografis dan geografis Korea Selatan amat berbeda dengan Indonesia.
"Namun yang perlu benar-benar menjadi pembelajaran bagi Indonesia adalah mengenai budaya dan pola pikir. Korea Selatan menjadi negara maju karena mampu mengubah budaya dan pola pikir bangsanya dari budaya dan pola pikir negara berkembang menjadi budaya dan pola pikir masyarakat maju," demikian CT.
4. Malaysia
|
|
Kebijakan Bumiputera membedakan akses kesempatan di tengah masyarakat berdasarkan etnis. Hal ini tidak dapat dipungkiri menjadi penghalang pertumbuhan kelompok-kelompok etnis non-Melayu. Malaysia juga mendorong pendidikan, bahkan di bidang pendidikan tinggi Malaysia amat mendorong masyarakatnya untuk menuntut pendidikan di luar negeri dengan memberikan beasiswa.
"Kebijakan ini memberi dampak positif peningkatan kualitas sumber daya manusia, namun pada saat yang bersamaan juga membawa potensi brain-drain," terangnya.
Pertumbuhan ekonomi Malaysia salah satunya difasilitasi oleh tumbuhnya industri manufaktur. Namun keunggulan di industri manufaktur akibat keunggulan komparatif tenaga kerja dan sumber daya alam tidak bisa berlangsung selamanya. Upah tenaga kerja akan meningkat seiring dengan kemajuan ekonomi dan peningkatan produktivitas.
"Karena itu keunggulan harus didasarkan bukan saja kepada produktivitas namun juga kepada inovasi. Persaingan di dunia internasional sangat sulit dimenangkan apabila hanya mengandalkan sektor manufaktur padat karya," tuturnya.
Lebih jauh, CT mengatakan Malaysia tidak cukup cepat beralih kepada upaya peningkatan inovasi. Rendahnya alokasi anggaran untuk pembiayaan riset pengembangan teknologi mengakibatkan Malaysia akhirnya tidak bisa keluar dari perangkap negara berpendapatan menengah tadi.
Halaman 2 dari 5










































