"Menjual sapi kan berkaitan dengan budaya masyarakat peternak kita. Peternak hanya menjual sapi kalau memang butuh. Tapi kalau harganya bagus dan tidak butuh uang, maka tidak menjualnya," ujar Menteri Pertanian Suswono kepada wartawan di sela acara Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa (HC) kepada Chairul Tanjung di Kampus C Universitas Airlangga (Unair), Mulyprejo, Surabaya, Senin (26/8/2013).
Dengan kondisi budaya masyarakat seperti itu, hanya menjual kalau membutuhkan uang, maka pihaknya terpaksa menggunakan parameter harga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Katanya, berdasarkan stok yang ada, stok belum mencerminkan dukungan suplai, karena terpengaruh diantaranya faktor budaya peternak yang menilai sapi adalah sebagai tabungan dan akan menjualnya jika dibutuhkan.
Ia menambahkan, Kementerian Perdagangan juga sedang melakukan evaluasi terhadap pemasukan daging yang ada. Termasuk, harga yang sesuai anjuran pemerintah Rp 30 ribu per kilo per bobot hidup. Tapi setelah dari rumah potong hewan (RPH) ke pasar, ada pelaku usaha yang diduga mempermainkan harga.
"Yang diizinkan impor sudah masuk semua atau tidak. Jadi yang sudah masuk pun, apakah sudah disuplay ke pasar atau nggak. Nanti kita tunggu hasil evaluasinya (dari Kemendag)," tandasnya.
(roi/ang)











































