Brasil misalnya, pada akhir pekan lalu bank sentral di negeri samba itu mengucurkan duit sebesar US$ 60 miliar untuk menyerap mata uang Real di pasar. Saban pekan, bank sentral menghabiskan US$ 2,5 miliar.
Mulai Senin sampai Kamis besok, bank sentral Brasil mengeluarkan dana US$ 500 juta per hari di pasar swap mata uang. Sedangkan setiap Jumat, bank sentral akan langsung membeli mata uang Real untuk ditukar dengan dolar AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eduardo Velho, kepala ekonom INVX Global Partners, menilai belum pastinya kelanjutan stimulus moneter di Amerika Serikat menyebabkan arus modal keluar meninggalkan negara-negara berkembang. Inilah yang terjadi di Brasil dan menyebabkan depresiasi mata uang Real.
“Masalah kita saat ini adalah adanya perubahan struktural dalam ekonomi global. Upaya bank sentral merupakan posisi yang penting untuk meredam fluktuasi dan tekanan di nilai tukar. Saya menilai ini sebagai kebijakan yang positif,” tutur Velho.
India juga melakukan hal yang sama pada pekan lalu. Bank sentral India mengguyur dana senilai 80 miliar rupee (sekitar US$ 1,3 miliar) melalui pembelian obligasi pemerintah bertenor jangka panjang. Sebagaimana Brasil, mata uang Rupee juga melemah 16 persen terhadap dolar AS sejak Mei lalu.
Hasilnya? Setali tiga uang. Pelaku pasar merespons positif saat itu. “Bank sentral berupaya menurunkan yield obligasi pemerintah jangka panjang. Langkah ini juga mampu meningkatkan likuiditas di sistem perbankan dan ekonomi secara keseluruhan,” kata Ashish Parthasarthy, treasurer di HDFC Bank.
Selain intervensi oleh bank sentral, pemerintah India pun akan menerapkan kebijakan untuk menjaga daya beli. Parlemen sudah menyetujui program penyediaan gandum dan beras bersubsidi senilai hampir US$ 20 miliar
Tapi kaum oposisi India mengkritik kebijakan itu. Penyediaan pangan murah dinilai sebagai bagian dari kampanye koalisi pemerintahan, mengingat India akan menghadapi pemilihan umum pada tahun depan.
(DES/DES)











































