“Kalau sempat membaca The Economist, ada laporan editorial yang mengupas apa yang terjadi dengan India. Masalah infrastruktur berat, pembebasan tanah berat, tenaga kerja berat, birokrasi dan korupsi berat. Sounds very familiar,” kata Mahendra Siregar, Wakil Menteri Keuangan, pada awal pekan ini.
Seperti halnya Indonesia, India pun tengah mengalami guncangan di pasar finansial. Awal pekan ini mata uang Rupee India ditutup melemah 2,3 persen, depresiasi harian terbesar sejak 2011. Sedangkan indeks BSE Mumbai ditutup melemah 1,6 persen.
Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Selasa (27/8) pun tercatat melemah 3,7 persen. Sejak awal tahun, IHSG sudah melemah 8,1 persen sementara dalam periode yang sama bursa saham India melemah 7,4 persen.
India pun mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Pada kuartal I-2013, ekonomi India tumbuh 4,8 persen. Beberapa tahun belakangan, India mampu tumbuh dalam kisaran 7-8 persen.
Indonesia mengalami hal serupa. Pada kuartal II-2013, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,8 persen. Sebelumnya, Indonesia cukup rajin membukukan pertumbuhan di kisaran 6 persen.
“Yang membuat kesamaannya lebih menarik, India juga akan menyelenggarakan pemilihan umum pada 2014. Again, sounds very familiar,” tambah Mahendra.
Jika tidak hati-hati, Mahendra mengatakan bisa saja nanti majalah The Economist akan membahas Indonesia sebagai laporan utama. “Buat mereka gampang saja, tinggal diganti. Masalahnya sama saja,” ujarnya.
Namun, Mahendra menegaskan Indonesia harus mampu bangkit. “Pertaruhannya terlalu besar untuk kita kalau tidak berhasil. Kalau harus mengalami slowdown dan kesulitan ekonomi yang meningkat begitu cepat di tengah periode pemilu, you'll never know the real risk,” katanya.
Fitch Ratings, salah satu lembaga pemeringkat di pasar modal, juga membuat laporan khusus tentang India dan Indonesia. Meski tengah dirundung gejolak pasar finansial, Fitch belum berencana menurunkan rating kedua negara ini.
Meski begitu, Fitch Ratings menilai India-Indonesia harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang menumpuk agar lebih mampu bertahan di tengah gunjang-ganjing ekonomi global. “Pelemahan rupee dan rupiah mencerminkan tingginya defisit transaksi berjalan. Kemudian, tingginya pertumbuhan kredit, anggaran negara yang masih defisit, dan inflasi tinggi bisa berujung kepada hilangnya kepercayaan investor,” begitu disebut dalam laporan Fitch.
Fitch juga menggarisbawahi perlunya reformasi struktural seperti subsidi bahan bakar. Subsidi yang lebih sehat akan mendorong terciptanya anggaran negara yang berkesinambungan (sustainable) dan mengurangi defisit transaksi berjalan.
Akan tetapi, Fitch meragukan India dan Indonesia mampu melaksanakan reformasi tersebut dalam jangka pendek. “Kami memperkirakan masih butuh waktu, karena kedua negara mendekati Pemilu,” kata lembaga itu.
(DES/DES)











































