Ujian untuk Si Super Duper dari Jepang

Kereta-Kereta Api Super Cepat Dunia (1)

Ujian untuk Si Super Duper dari Jepang

- detikFinance
Senin, 02 Sep 2013 09:14 WIB
Ujian untuk Si Super Duper dari Jepang
Kereta api maglev L0 Jepang
Jakarta - Akihiro Ohta terlihat kurang puas. Menteri Transportasi Jepang ini baru saja turun dari kereta api terbaru yang sedang diuji coba oleh Central Japan Railway di Tokyo, pada pekan lalu. “Kecepatannya sedikit terasa,” kata Menteri Ohta. “Seperti merasakan sesuatu di telinga saat berada di pesawat yang sedang take off atau lift yang sedang naik dengan cepat.”

Tapi Menteri Ohta yakin, operator Central Japan Railway atau yang sering disebut JR Central, akan memperbaiki masalah itu dan membuat kereta anyar itu senyaman Shinkansen atau kereta peluru yang populer di Tokyo.

JR Central memang sedang menguji kereta yang kecepatan regulernya bisa lebih dari 500 kilometer per jam, atau dua kali lebih cepat ketimbang kecepatan reguler Shinkansen. Kereta ini memakai teknologi magnetic-levitation (maglev). Maglev adalah sebuah metode untuk menopang sebuah benda menggunakan medan magnet. Tekanan magnetik digunakan untuk melawan efek gravitasi dan akselerasi lainnya. Benda yang ditopang maglev kelihatan melayang di atas permukaan.

Pengujian kereta super duper cepat yang disebut dengan nama L0 ini dilakukan setelah JR Central menyelesaikan tambahan rel pengujian sepanjang 24 kilometer di Kota Tsuru, Prefektur Yamanashi. Kalau pengujian-pengujian berikutnya lancar, proyek L0 akan dimulai pada April mendatang dengan biaya sebesar US$ 52 miliar atau sekitar Rp 520 triliun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kereta L0 akan beroperasi di rute Tokyo-Nagoya sejauh 286 kilometer. Dengan kecepatan rata-rata 500 kilometer per jam, jarak tempuh kedua kota itu hanya 40 menit. Dengan kereta sebelumnya, jarak tempuh Tokyo-Nagoya adalah 95 menit.

Masalahnya, mencapai jarak tempuh itu, Central Japan Railway harus membangun terowongan sejauh 248 kilometer di bawah pencakar-pencakar langit Tokyo dan pegunungan. Jarak ini lima kali panjang terowongan Channel di Eropa, yang panjangnya hanya 50 kilometer.

“Kami tidak memakai teknologi yang sama sekali baru untuk membangun terowongan itu,” kata Teruyoshi Nagashima, juru bicara JR Central. “Kami akan segera mulai begitu dapat izin,” katanya, seraya menolak mengungkapkan kapan proyek pembangunan itu dimulai.

Selain itu, ada masalah lain yang dikhawatirkan akan menghambat proyek besar itu. Populasi Jepang diperhitungkan akan terus menurun sehingga demand untuk bepergian dengan kereta api super cepat juga diperkirakan akan turun.

“Saya pikir, (proyek) ini akan diselesaikan dengan sangat-sangat lambat,” kata Edwin Merner, Presiden Atlantis Investment Research Corp. di Tokyo. “Kalau proyeksi populasi itu benar, maka pemakaian kereta peluru juga akan turun.”

Berdasarkan riset National Institute of Population and Social Security, populasi Jepang akan menurun jadi 117 juta pada 2027, dari total 127 juta saat ini. Pada 2060, populasi Jepang tinggal 80 juta saja.

Tapi JR Central optimistis. Soalnya, Tokyo diprediksi akan terus bertumbuh ketika semakin banyak orang yang bermigrasi ke kota. Populasi yang hidup di prefektur Tokyo diperkirakan akan naik jadi 13,4 juta orang pada 2020. Pada 2010, populasi prefektur Tokyo adalah 13,2 juta orang.

Sedangkan kawasan Tokyo yang lebih luas mempunyai populasi 35 juta orang, yang menjadikan ibukota Jepang ini sebagai metropolis terpadat di di dunia. Belum lagi ada rencana perluasan dari Nagoya ke Osaka pada 2045.

Maka nantinya akan ada 64 juta orang yang berada di jalur kereta maglev L0. Operator yakin, kereta ini akan mengurang arus bepergian dengan pesawat atau melintas di jalan tol. Memang tarifnya diperkirakan akan 700 Yen lebih mahal dari tarif kereta peluru saat ini.

“Mungkin tak akan banyak penumpang baru ke Nagoya, tapi ketika diperluas ke Osaka, akan muncul demand bisnis yang signifikan,” kata Ryota Himeno, analis di Barclays Securities Japan Ltd. “Tokyo akan semakin mahal dan semrawut dan perusahaan-perusahaan akan memindahkan usahanya ke Osaka. Itu pun tergantung pada frekuensi dan kapasitas kereta maglev.”

(DES/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads