Defisit Neraca Perdagangan RI Makin Bengkak, Capai US$ 5,65 Miliar

Defisit Neraca Perdagangan RI Makin Bengkak, Capai US$ 5,65 Miliar

Maikel Jefriando - detikFinance
Senin, 02 Sep 2013 12:00 WIB
Defisit Neraca Perdagangan RI Makin Bengkak, Capai US$ 5,65 Miliar
Jakarta - Neraca perdagangan pada bulan Juli 2013 masih tercatat defisit sebesar US$ 2,31 miliar. Angka ini jauh lebih tinggi dari defisit di Juni sebesar US$ 846,6 juta. Dengan demikian secara kumulatif, yaitu Januari-Juli, defisit sebesar US$ 5,65 miliar.

"Non migas masih bertahan cukup bagus, total kita surplus US$ 1,9 miliar tapi tidak berhasil mengkompensasi defisit migas yang terjadi cukup besar. Defisit migas US$ 1,88 miliar secara bulanan dan komulatif defisit migas US$ 7,6 miliar," kata Kepala BPS Suryamin di Gedung BPS, Senin (2/9/2013)

Sementara untuk ekspor di Juli tercatat US$ 15,11 miliar, naik 2,37% dibanding Juni 2013. Sepanjang Januari - Juli ekspor RI sebesar US$ 106,18 miliar, turun 6,07% (yoy). Sedangkan ekspor non migas US$ 87,57 miliar, turun 2,66%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pangsa ekspor terbesar saat ini adalah bahan bakar mineral sebanyak US$ 15,04 miliar, diikuti oleh lemak dan minyak nabati sebesar US$ 10,92 miliar.

Negara tujuan ekspor nomor satu di bulan Juli adalah China dengan nilai US$ 11,77 miliar, dibuntuti Jepang senilai US$ 9,54 miliar dan Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 9,03 miliar di urutan kedua dan ketiga.

"Ekspor terjadi penurunan pada barang industri, kemudian juga pertanian dan hasil tambang juga menurun," ujar Suryamin.

Sedangkan untuk impor Juli tercatat US$ 17,42 miliar, naik 11,4% dibanding Juni 2013. Secara tahun berjalan, Januari - Juli, terpantai sebesar US$ 111,83 miliar, turun 0,86% (yoy). Impor turun 3,41% menjadi US$ 85,58 miliar.

Barang impor dengan nilai terbesar yang dibeli Indonesia adalah mesin dan peralatan mekanik senilai US$ 15,83 miliar, kemudian mesin dan peralatan listrik sbanyak US$ 11,3 miliar.

Negara tujuan impor di Juli masih China dengan nilaii US$ 17,44 miliar, lalu Jepang sebesar US$ 11,49 miliar di urutan kedua dan Thailand US$ 6,75 miliar di urutan ketiga.

"Ini artinya impor tersebut masih berkaitan dengan investasi. Karena hubungannya barang modal untuk industri," sebutnya.

(ang/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads