"Non migas masih bertahan cukup bagus, total kita surplus US$ 1,9 miliar tapi tidak berhasil mengkompensasi defisit migas yang terjadi cukup besar. Defisit migas US$ 1,88 miliar secara bulanan dan komulatif defisit migas US$ 7,6 miliar," kata Kepala BPS Suryamin di Gedung BPS, Senin (2/9/2013)
Sementara untuk ekspor di Juli tercatat US$ 15,11 miliar, naik 2,37% dibanding Juni 2013. Sepanjang Januari - Juli ekspor RI sebesar US$ 106,18 miliar, turun 6,07% (yoy). Sedangkan ekspor non migas US$ 87,57 miliar, turun 2,66%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negara tujuan ekspor nomor satu di bulan Juli adalah China dengan nilai US$ 11,77 miliar, dibuntuti Jepang senilai US$ 9,54 miliar dan Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 9,03 miliar di urutan kedua dan ketiga.
"Ekspor terjadi penurunan pada barang industri, kemudian juga pertanian dan hasil tambang juga menurun," ujar Suryamin.
Sedangkan untuk impor Juli tercatat US$ 17,42 miliar, naik 11,4% dibanding Juni 2013. Secara tahun berjalan, Januari - Juli, terpantai sebesar US$ 111,83 miliar, turun 0,86% (yoy). Impor turun 3,41% menjadi US$ 85,58 miliar.
Barang impor dengan nilai terbesar yang dibeli Indonesia adalah mesin dan peralatan mekanik senilai US$ 15,83 miliar, kemudian mesin dan peralatan listrik sbanyak US$ 11,3 miliar.
Negara tujuan impor di Juli masih China dengan nilaii US$ 17,44 miliar, lalu Jepang sebesar US$ 11,49 miliar di urutan kedua dan Thailand US$ 6,75 miliar di urutan ketiga.
"Ini artinya impor tersebut masih berkaitan dengan investasi. Karena hubungannya barang modal untuk industri," sebutnya.
(ang/dru)











































