Mengganjal Kereta Super AS dan Inggris

Kereta-Kereta Api Super Cepat Dunia (2)

Mengganjal Kereta Super AS dan Inggris

Deddy Sinaga - detikFinance
Senin, 02 Sep 2013 12:19 WIB
Mengganjal Kereta Super AS dan Inggris
Kereta api maglev
Jakarta - Masalah pada proyek kereta api super cepat tak hanya dialami oleh Central Japan Railways dengan kereta magnetic-levitation (maglev) L0. Dua proyek kereta super cepat di Inggris dan Amerika Serikat juga menghadapi berbagai persoalan.

Proyek kereta api berkecepatan tinggi di California, Amerika Serikat, yang akan dioperasikan oleh California High-Speed Rail Authority itu diragukan keberlangsungannya setelah berbagai masalah bermunculan. Persoalan sudah muncul sejak September 2008, tak lama setelah voting publik menyatakan proyek itu diterima.

Kelompok Reason Foundation, Howard Jarvis Taxpayers Association, dan Citizens Against Government Waste mempublikasikan laporan yang mengkritik proyek itu. Mereka menyatakan, proyek itu total akan menghabiskan anggaran sebesar US$ 65,2 miliar sampai US$ 81,4 miliar, yang lebih tinggi ketimbang estimasi perusahaan Parsons Brinckerhoff.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laporan itu juga memprediksi, estimasi jumlah penumpang tak akan sebanyak yang diproyeksikan. Menurut mereka, jumlah penumpang kereta itu hanya 23,4 juta sampai 31,1 juta per tahun pada 2030. Sedangkan California High-Speed Rail Authority memprediksi jumlah penumpang adalah 65,5 juta sampai 96,5 juta.

Operator akhirnya merilis rencana bisnis yang baru pada November 2011 dengan estimasi biaya adalah US$ 68,4 miliar, dua kali lipat dari estimasi awal yaitu US$ 33 miliar. Mereka juga merevisi tahun penyelesaian proyek, dari 2020 menjadi 2033. Setahun kemudian, estimasi biaya direvisi jadi US$ 91,4 miliar.
 
Terlepas dari kontroversi, jalur kereta super cepat ini akan mengular dari San Fransisco dan Sacramento ke Los Angeles via Central Valley, dan ke San Diego via Inland Empire. Panjang rel dari San Fransisco ke Los Angeles akan mencapai 837 kilometer. Kecepatan rata-rata kereta ini adalah 200 kilometer per jam, atau tak jauh berbeda dengan Shinkansen di Jepang.

Bagaimana dengan proyek di Inggris? Pemerintah setempat mendapat penolakan atas proyek kereta kecepatan tinggi yang akan menghubungkan London dan Birmingham. Rute ini akan dibuka pada 2026 sebelum diperpanjang sampai ke Manchester dan Leeds.

Proyek bernama High Speed 2 ini dikembangkan oleh perusahaan bernama High Speed Two Ltd. Fase pertama adalah rute London-Birmingham. Lalu rute terbagi dua, satu menuju Manchester Piccadilly dan satu lagi ke Leeds.
 
Belakangan proyek ini ditentang sejumlah organisasi. Mereka menilai perkiraan demand untuk kereta super cepat itu terlalu tinggi. Ada pula yang mengatakan kereta api super cepat sebaiknya memakai koridor yang sudah ada supaya lebih efisien.

Belum lagi masalah lingkungan. Proyek itu diperkirakan akan menghancurkan 350 habitat satwa liar. Anggaran 33 miliar Poundsterling pun dinilai terlalu kecil. Proyek itu diperkirakan akan menelan biaya lebih dari 70 miliar Pounsterling.

Kasus di Inggris dan California sedikit berbeda dengan di Tokyo, yaitu proyek kereta maglev L0. Meski ada kekuatiran akan demand yang kecil lantaran proyeksi penduduk Jepang yang menurun, soal pendanaan proyek ini sama sekali tak tergantung pada pemerintah.

JR Central akan memakai uangnya sendiri, ditambah pinjaman. JR Central sendiri mempunyai kas sebesar US$ 2,95 miliar pada tahun fiskal yang berakhir pada Maret lalu. Angka ini lebih besar ketimbang pendapatan Union Pasific Corp, perusahaan kereta api di Amerika Serikat, yang meraih US$ 2,42 miliar.

JR Central juga mengangkut paling banyak penumpang ketimbang maskapai penerbangan mana pun di dunia. Diprediksi, pendapatan bersihnya akan meningkat 11 persen menjadi 222 miliar Yen pada tahun fiskal ini. Perusahaan ini sudah membukukan laba saban tahun sejak masuk Bursa Efek Tokyo pada 1997.

“Kereta peluru JR Central itu sumur duit,” kata Shinichi Yamazaki, analis di Okasan Securities Group Inc. “Mereka punya uang yang cukup, termasuk utang, untuk membiayai proyek itu, bahkan mereka bisa membangunnya lebih cepat.”

(DES/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads