Lonjakan Harga Mulai Terasa di Pasar Induk Solo

Lonjakan Harga Mulai Terasa di Pasar Induk Solo

- detikFinance
Selasa, 02 Nov 2004 15:22 WIB
Solo - Meski diyakinkan stok persediaan dalam kondisi aman, namun pada H-12 lebaran ini lonjakan harga sembako dan kebutuhan lainnya mulai dapat dirasakan di Pasar Legi, yang merupakan pasar induk di Solo. Menurut para pedagang, kenaikan harga tersebut baru mulai terjadi pada hari ini.Harga telur misalnya, naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 6.500 per kg, gula pasir dari Rp 4.000 menjadi Rp 4.200 per kg, ayam potong dari Rp 9.000 menjadi Rp 1.2000 per kg, emping melinjo dari Rp 17.000 menjadi Rp 21.000 per kg.Sejumlah pihak berwenang mengatakan, kenaikan harga memang selalu terjadi menjelang lebaran. Hal ini tidak berhubungan dengan minimnya stok sembako dan barang lainnya. Untuk stok beras, misalnya, di eks-Karesidenan Surakarta Sub Dolog Surakarta mengatakan saat ini terdapat 72 ribu ton. Jumlah ini diprediksi cukup untuk persediaan kebutuhan selama sembilan bulan kedepan.Dikatakan juga kebutuhan beras di Kota Solo hanya mencapai 603 ton per bulan, Sukoharjo 464 ton per bulan, Klaten 768 ton per bulan, Boyolali 1.170 ton per bulan, Sragen 880 ton per bulan, Karanganyar 468 ton per bulan dan Wonogiri 1.230 ton per bulan. Untuk harga beras medium masih berkisar Rp 2.600 sampai Rp 2.700 per kg, sedangkan pandanwangi di atas Rp 3.000 per kg.Sedangkan persediaan gula, PTPN IX mengaku memiliki 80 ribu ton gula pasir. Kebutuhan gula pasir di Jawa Tengah setiap bulan hanya berkisar pada 30 ribu ton. Sehingga stok tersebut bisa bertahan untuk dua bulan kebutuhan. Itupun masih bisa diambilkan dari pabrik gula lain seperti dari Jawa Timur dan Yogyakarta.Stok daging juga berada pada garis aman. Dinas Pertanian Kota Solo mengatakan, para pedagang tidak menyediakan stok daging melainkan stok sapi. "Saat ini setiap penjagal rata-rata telah mempunyai 100 ekor stok sapi," ujar Kepala Dinas Pertanian Kota Surakarta, Sayono Amiradji.Sayono juga meyakinkan daging-daging yang dijual di pasaran Solo telah diawasi ketat. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan menular berbagai penyakit yang sedang mewabah akhir-akhir ini."Hewan yang dipotong di rumah pemotongan hewan Solo bahkan telah dilakukan pemeriksaan sampai tiga kali. Tahapannya adalah ketika masih hidup, saat hendak dipotong dan pemeriksaan daging setelah hewan dipotong," ungkapnya. (djo/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads