Korban Terbaru Krisis Yunani: Mickey Mouse

Korban Terbaru Krisis Yunani: Mickey Mouse

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Rabu, 04 Sep 2013 14:48 WIB
Korban Terbaru Krisis Yunani: Mickey Mouse
Jakarta - Krisis ekonomi Yunani kembali memakan korban, kali ini menimpa tokoh Disney Mickey Mouse. Kok bisa?

Majalah Mickey Mouse edisi Yunani yang sudah terbit selama 47 tahun ini terpaksa dihentikan. Si penerbit, Christos Terzopoulos, mengumumkan hal ini melalui laman Facebook miliknya.

Penerbitan majalah hiburan itu terpaksa dihentikan gara-gara situasi ekonomi Yunani yang belum juga membaik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada banyak hal lain seperti perombakan pemerintahan, menurunnya nilai tukar dan ditutupnya surat kabar dan majalah yang akan segera diumumkan," tulis Terzopoulos di situs jejaring sosial itu yang banyak dikutip oleh media lokal.

Majalah Mickey Mouse ini pertama kali dimunculkan di Yunani oleh perusahaan penerbit Nea Aktina pada July 1966. Majalah yang umurnya sudah cukup tua ini tidak dihentikan secara tergesa-gesa dan tiba-tiba. Si penerbit mengaku sudah berbulan-bulan mencari solusi supaya tetap terbit tapi selalu bertemu jalan buntu.

"Sampai akhirnya bulan lalu kami masih optimistis bisa mempertahankan majalah ini tetap terbit. Tetapi Anda harus tahu situasi (ekonomi) yang serba tidak pasti ini terpaksa majalah yang berumur hampir 48 tahun ini harus ditutup," katanya seperti dikutip CNBC, Rabu (4/9/2013).

Ia mengaku tidak bisa memberi penjelasan lebih lanjut karena ada beberapa hal yang sifatnya rahasia antara penerbit dan pemilik hak cipta. Namun ia memberi sedikit harapan bahwa majalah tersebut bisa bangkit dan diterbitkan kembali jika situasi ekonomi sudah lebih baik.

Mickey Mouse bukanlah satu-satunya korban dari krisis ekonomi yang berkepanjangan di Yunani. Setelah enam tahun masuk masa resesi, Yunani punya utang yang menggunung serta ada lonjakan pengangguran yang tinggi.

Awal tahun ini, Yunani juga sudah menutup siaran radio dan televisi milik pemerintah, sebagai bagian dari program penghematan Uni Eropa. Namun karena desakan dari warga dan serikat buruh, siaran radio dan televisi milik pemerintah itu kembali dibuka satu pekan kemudian.

(ang/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads