Para pemimpin negara G-20 yang mewakili 90% dari perekonomian dunia dan dua pertiga populasi dunia, dikabarkan sudah mendekati kesepakatan soal pernyataan ini.
Ada sejumlah permintaan yang diutarakan beberapa anggota G-20, seperti Australia yang menginginkan adanya terobosan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dunia. Sementara Jerman mengajukan proposal pengetatan regulasi soal 'shadow banking' dan aturan soal proteksionisme perdagangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negara-negara emerging dan berkembang di G-20 masih berjuang untuk menghadapi guncangan ekonomi yang terjadi saat ini. Khususnya karena rencana Amerika Serikat (AS) untuk mengurangi pasokan dolar di dunia.
Selain itu, G-20 juga tengah menghadapi isu soal pengurangan kebijakan stimulus dari bank sentral AS yaitu The Fed akibat perbaikan ekonomi di AS. Wacana ini telah membuat ekonomi dunia terguncang hebat, dengan pelemahan sejumlah mata uang di berbagai negara terhadap dolar AS.
Krisis utang di Eropa dalam 3 tahun terakhir ini sudah tak lagi menjadi perhatian dari pertemuan G-20 tersebut. "Saya ingin mengatakan kepada anda, dalam pertemuan G-20 ini kami tidak lagi menjadi fokus perhatian," kata Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso.
Pertemuan ini memang memperdebatkan soal kesehatan ekonomi dunia. Ketua KTT yaitu Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, sulit untuk menyelesaikan perlambatan pertumbuhan ekonomi pada situasi dunia saat ini.
"Hal tersulit dan memakan waktu banyak dalam diskusi adalah berhubungan dangan evaluasi soal situasi ekonomi global," kata Bokarev.
Negara-negara yang tergabung dalam BRICS yaitu Brasil, Rusia, China, dan Afrika Selatan, telah menyepakati adanya cadangan devisa bersama senilai US$ 100 miliar untuk membantu neraca pembayaran bila terjadi krisis.
India dan Jepang juga telah sepakat untuk melakukan bilateral currency swap facility, guna membantu rupee yang tengah anjlok saat ini.
Kabar bahwa The Fed akan mengurangi paket stimulusnya telah menghantam negara-negara berkembang seperti Indonesia, yang sebelumnya telah menikmati arus dolar murah dari dunia.
"Tapi komunike yang dibuat akan merefleksikan bahwa porsi ekonomi negara berkembang pada pertumbuhan ekonomi global akan makin besar, daripada negara-negara emerging," kata Bokarev.
(dnl/hen)











































