Isu minyak sawit terus-menerus bergeser dari satu isu ke isu lainnya tanpa kejelasan kapan berakhir. Indonesia minta perlakuan adil.
Demikian benang merah sambutan Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda Retno LP Marsudi pada pengantar Roundtable Discussion on Sustainable Palm Oil di Den Haag, Kamis (12/9/2013) waktu setempat.
Disebutkan, diskusi mengenai minyak sawit sebelumnya adalah mengenai sustainability atau kelestarian lingkungan dan Indonesia sedang menuju ke arah itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sementara kini berkembang isu lain, di antaranya mengenai dampak minyak sawit terhadap kesehatan masyarakat," ujar Dubes.
Menurut Dubes, perlu diteliti secara ilmiah apakah anggapan ini benar? Bagaimana dengan produk lain sejenis? Haruskah minyak sawit saja yang dipandang bertanggung jawab atas masalah kesehatan?
"Suatu data ilmiah yang komprehensif dan transparan perlu disampaikan untuk menjawab anggapan ini," cetus Dubes.
Oleh karena itu, imbuh Dubes, kerjasama di antara semua pemangku kepentingan minyak sawit menjadi sangat penting, untuk menjelaskan kepada konsumen bagaimana Indonesia mengelola minyak sawit dan menyajikan data berdasar penelitian mengenai aspek kesehatan dari minyak sawit.
Tapi setelah ada penelitian ilmiah, diharapkan agar bandul isu tersebut tidak bergeser lagi ke isu-isu lainnya yang tiada akhir dengan target sama: "mengecam dan melarang minyak sawit".
"Apa yang dibutuhkan Indonesia adalah perlakuan adil terhadap minyak sawitnya," pungkas Dubes.
Diskusi yang diselenggarakan oleh KBRI Den Haag bekerjasama dengan Kementerian Pertanian ini mengetengahkan pembicara kunci Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Kementerian Pertanian RI Dr Haryono dan dihadiri oleh para pemangku kepentingan minyak sawit Belanda-Indonesia, kalangan akademisi, lembaga swadaya masyarakat dan mahasiswa.
(es/es)











































