Simalakama Ayam Goreng Negeri Ginseng

Saat Ayam Goreng \'Menjajah\' Korea (1)

Simalakama Ayam Goreng Negeri Ginseng

- detikFinance
Senin, 16 Sep 2013 09:35 WIB
Simalakama Ayam Goreng Negeri Ginseng
Seoul - Kang Hyo-seon sudah separuh baya. Tapi pria 51 tahun ini masih kuat berkeliling dengan sepeda motornya untuk mengantarkan pesanan ayam goreng pesanan pelanggan.

Meski masih bersemangat melakoni bisnis keluarga yang dibukanya pada 8 tahun lalu, ada terselip kekuatiran di hati Hyo-seon. โ€œSituasi makin memburuk karena orang-orang mulai terjun ke pasar (restoran cepat saji ayam goreng) ini,โ€ katanya.

Meski Korea Selatan terkenal dengan kuliner tradisionalnya yang kuat, tak bisa dipungkiri ada fenomena di negeri itu, yakni makin merajalelanya restoran cepat saji yang menjual ayam goreng. Padanan makanan cepat saji ala Korea ini umumnya terdiri dari ayam yang renyah dan bir dingin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam satu dekade saja, sudah ada 36 ribu restoran cepat saji berdiri di sana. Di lingkungan dekat kediaman Hyo-seon, di salah satu sudut kota Seoul, sudah ada empat restoran sejenis. โ€œKalau ada yang ikut-ikutan lagi, saya akan menghentikan mereka bagaimana pun caranya,โ€ kata dia.

Tapi bukan jumlah saja yang menjadi persoalan di negeri ginseng itu. Masalahnya adalah kebanyakan keluarga yang terjun ke bisnis cepat saji membangun usahanya dari duit utang dengan mengagunkan rumahnya sendiri.

Angka utang rumah tangga di negeri itu sudah sangat tinggi. Penyebabnya, selain tren pendirian restoran cepat saji, bunga pinjaman bank pun terbilang rendah. Lalu, ada pula dorongan dari sistem pensiun di Korea Selatan.

Di Korea Selatan, pekerja di perusahaan besar biasanya 'dipaksa' untuk pensiun pada usia 50-an. Tapi duit pensiun yang mereka terima tak cukup untuk menyambung hidup. Lantaran merasa masih produktif, maka banyak yang kemudian membuka usaha sendiri.

Seperempat dari 24 juta kaum pekerja di Korea Selatan adalah kaum wirausahawan. Tapi sebanyak 32 persen di antaranya berusia 50 tahunan. Salah satu pilihan wirausaha yang gampang adalah mendirikan restoran cepat saji. Tapi bak buah simalakama, mudah didirikan mudah pula bangkrutnya.

KB Financial Group yang berbasis di Seoul mencatat bahwa ada 7.400 restoran ayam goreng cepat saji yang dibuka saban tahun. Tapi pada saat yang sama, 5.000 restoran lain bangkrut. Persis pepatah patah tumbuh hilang berganti.

Hampir setengah bisnis restoran seperti itu ditutup dalam waktu tiga tahun saja. Sebanyak 80 persen di antaranya tutup dalam 10 tahun.

Pemerintah pun mengeluarkan peraturan baru pada tahun lalu. Pemerintah melarang restoran franchise mendirikan dua outlet dalam radius 800 meter.

Pemerintah juga membantu kreditor berpenghasilan rendah yang hampir tak bisa membayar pinjaman kurang dari US$ 100 ribu. Sebanyak US$ 1,3 miliar dana dikucurkan untuk membantu bank memperpanjang masa pinjaman sampai 10 tahun atau memutihkan setengah utang-utang kreditor.

Sudah ada 155 ribu orang yang memanfaatkan bantuan pemerintah itu. Tapi banyak juga yang tak berhasil mendapatkannya. Salah satunya adalah Seong Myeong-sik, 65 tahun. Perempuan ini sudah bekerja mati-matian untuk menghidupkan restorannya.

Myeong-sik bekerja 15 jam sehari dan tak libur pada saat hari libur nasional. Tapi dia gagal membayar utangnya ke bank. โ€œBanyak pensiunan yang terjun ke bisnis ini dengan mudah, tapi kesuksesan tak pernah datang dengan mudah,โ€ katanya.

Ketika Myeong-sik membuka restorannya pada 2000, hanya ada tiga restoran ayam goreng cepat saji di lingkungan rumahnya, di selatan Seoul. Kini sudah ada 11 restoran. Untungnya, pemerintah ingin menggusur kawasan tempat tinggalnya. Jadi dia punya duit yang cukup untuk pindah dan mengakhiri bisnis restorannya yang merugi.

(DES/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads