Tapi sebuah kecelakaan lalu lintas yang menewaskan seorang remaja pengantar makanan cepat saji membuatnya 'bertobat'. “Ketika membaca artikel koran itu, saya merasa selama ini saya seperti orang idiot,” kata lelaki 30 tahun itu.
Korea Selatan memiliki angka kecelakaan lalu lintas yang terbilang paling tinggi di dunia. Salah satu biang keroknya adalah sistem jasa antar makanan cepat saji yang populer di negeri ginseng itu. Mereka berlomba-lomba menawarkan jasa layanan antar yang cepat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penelitian terbaru mengindikasikan bahwa 50 persen pengantar makanan yang memakai sepeda motor di seluruh Korea Selatan pernah mengalami kecelakaan saat bertugas.
Data Kementerian Tenaga Kerja Korea Selatan lebih besar lagi. Mereka mencatat ada lebih dari 7.000 kecelakaan lalu lintas saban tahun, yang terkait jasa antar makanan cepat saji. Sudah banyak pula korbannya.
Tak heran kalau aktivis keselamatan lalu lintas meminta restoran cepat saji tak menjanjikan deadline pengantaran yang mustahil bagi pegawainya. Mereka bahkan pernah berunjuk rasa di depan restoran Domino's Pizza, memprotes kampanye jasa antar “garansi 30 menit” yang diperkenalkan restoran itu.
Soalnya, kampanye “garansi 30 menit” ini ikut mempengaruhi restoran-restoran lain. Mereka berlomba-lomba menjanjikan jasa antar tercepat dan menjanjikan kompensasi berupa potongan harga kalau sampai antarannya terlambat.
Aktivis meminta pemerintah mengatur layanan jasa antar ini. Apalagi, ada kekuatiran bagi pengantar makanan bahwa mereka terancam dipecat kalau lamban dalam mengantarkan pesanan konsumen.
Tapi ada pula yang mengkritisi kebiasaan masyarakat Korea yang suka cepat-cepat dalam melakukan sesuatu, termasuk ketika mengantar makanan.
“Meskipun kadang-kadang tak perlu melakukan sesuatu dalam waktu satu jam atau setengah jam, mereka tetap melakukannya, mereka ingin terus bergerak, saya tak tahu bagaimana mengubah kebiasaan itu,” kata Yet Jang, bekas petugas pengantar makanan cepat saji.
(DES/DES)











































