Cerita Chatib Basri Jadi Staf Sri Mulyani Saat Krisis 2008

Cerita Chatib Basri Jadi Staf Sri Mulyani Saat Krisis 2008

Maikel Jefriando - detikFinance
Senin, 16 Sep 2013 15:09 WIB
Cerita Chatib Basri Jadi Staf Sri Mulyani Saat Krisis 2008
Foto: Chatib Basri (dok.detikFinance)
Jakarta - Di depan para pelaku pasar modal dan bankir, Menteri Keuangan Chatib Basri memberikan sambutan terkait kondisi guncangan ekonomi saat ini. Dia bercerita soal pengalamannya saat menghadapi krisis keuangan global 2008.

Chatib menceritakan saat krisis 2008 terjadi, dirinya masih menjadi staf Sri Mulyani yang menjabat Menteri Keuangan saat itu. Kala itu, Chatib ditugaskan sebagai staf khusus untuk memantau kondisi neraca pembayaran yang defisit dan menyebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Tahun 2008, saat saya di Kemenkeu jadi stafnya ibu Sri Mulyani, saya ditugaskan untuk khusus soal neraca pembayaran. Karena waktu itu rupiah jatuh, saya ditugaskan itu," ujar Chatib dalam seminar 'How to Mix Fiscal and Monetary Policies to Face Global Economic Turbulences' di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Senin (16/9/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena pengalaman tersebut, Chatib menyatakan sangat mengerti kondisi ekonomi Indonesia saat krisis 2008 lalu. Chatib optimistis, kondisi guncangan ekonomi saat ini tidak seberat yang terjadi di 2008.

"Situasi yang terjadi sekarang, skalanya sampai hari ini, jauh lebih ringan dibandingkan 2008, itu 2008 jauh lebih berat," tegasnya.

Seperti pertumbuhan ekonomi global yang berjalan negatif di 2008, dan membuat tidak ada harapan bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor.

"Pertumbuhan ekonominya global negatif. AS itu minus 1%, Singapura minus 10%. Praktis harapan ekspor itu tidak ada. Saat yang sama terjadi krisis pangan karena harga pangan mengalami kenaikan luar biasa, sehingga pemerintah harus jaga pangan domestik tidak terkena," jelasnya.

Kemudian di 2008 lalu, BI rate mencapai 9,5% dan nilai tukar tercatat Rp 12.800/US$ yang berlangsung selama satu tahun.

"Tingkat bunga BI 9,5%. Dolar Rp 12.800. Itu berlangsung setahun sampai Juni 2009. Bank itu turun intern bank kolaps 115%. Ingat saat itu ada sebuah kebijakan, kepada bank BUMN disuntik Rp 15 triliun. Supaya likuiditasnya jalan," paparnya.

(mkj/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads