3 Pembangkit Baru Diharap Atasi Krisis Listrik di Sumatera
Kamis, 04 Nov 2004 17:03 WIB
Jakarta -
Krisis listrik di daerah Sumatera diyakini akan teratasi sementara dengan masuknya 3 pembangkit baru dengan total kapasitas terpasang 154 mega watt dan nilai investasi US$ 80,5 juta dan Rp 28,6 miliar. Untuk itu, PLN berencana untuk terus meningkatkan kapasitas listriknya untuk memenuhi kebutuhan listrik di Sumatera yang tiap tahun naik 12 persen. Demikian diungkapkan Direktur Pembangkitan dan energi primer Ali Herman Ibrahin di Gedung DESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (4/11/2004)."Dengan adanya 3 pembangkit baru, krisis listrik di Sumatera hanya aman untuk sementara saja. Setiap tahun kita harus menjaga agar reserve margin kita minimal 30 persen karena konsumsi terus meningkat," kata Ali Herman. Adapun 3 pembangkit baru tersebut terdiri dari PLTG Borang 100 mega watt di Kabupaten Banyu Asin, PLTG Indralaya II 40 mega watt di kabupaten Ogan Ilir dan PLTG Talang Dukuh II 14 mega watt di Musi Banyu Asin. Ketiga pembangkit itu rencananya akan diresmikan Presiden pada 9 November mendatang.Menurut Herman, PLTG Borang akan beroperasi pada Agustus 2005 dan pembangkit itu akan mendapatkan pasokan gas sebesar 24.230 mmcfd yang diperoleh dari Pertamina. Sedangkan PLTG Talang Dukuh II merupakan milik PT Pembangkitan Jawa Bali dengan nilai investasi US$ 6,937 juta dan Rp 4,061 miliar melalui skema pinjaman komersial bank. Pasokan gas pembangkit tersebut akan didapat dari lapangan gas Kaji milik Medco. Pada beban penuh, konsumsi gas pada pembangkit itu mencapai 10.123 mmcfd. Sedangkan PLTG Indralaya II merupakan milik PMN dengan investasi sebesar US$ 18,6 juta dan Rp 24,6 miliar. PLTG ini akan mendapat pasokan gas dari Medco sebesar 9.840 mmcfd. "Dengan adanya pembangkit baru itu setidaknya krisis energi di Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu dan Lampung dapat diatasi," kata Ali Herman.Menurut rencana, selain meresmikan 3 pembangkit itu, SBY juga akan meresmikan jaringan transmisi 150 kv yang menghubungkan Lubuk Linggau dengan nilai investasi Rp 364,2 miliar. Jaringan tersebut merupakan interkoneksi sistem kelistrikan Sumbar-Riau dan Sumateran bagian Selatan. "Pembangunan transmisi ini merupakan bagian dari rencana pembangunan interkoneksi Sumatera yang dimulai sejak 2003 dengan nilai investasi Rp 125 triliun. Interkoneksi Sumatera rencananya selesai 2007," kata Ali Herman.
(qom/)










































