Ini Hasil Pertemuan Hatta Rajasa dengan Pangeran Inggris

Ini Hasil Pertemuan Hatta Rajasa dengan Pangeran Inggris

Maikel Jefriando - detikFinance
Rabu, 18 Sep 2013 13:16 WIB
Ini Hasil Pertemuan Hatta Rajasa dengan Pangeran Inggris
Foto: Hatta dan Pangeran Andrew (Maikel-detikFinance)
Jakarta - Hari ini, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menerima kunjungan dari Pangeran Andrew asal Inggris. Maksud kedatangan Pangeran Andrew ke Jakarta adalah untuk urusan perdagangan dan investasi.

Apa isi lengkap pertemuan ini?

Hatta menjelaskan, ada empat hal utama yang telah menjadi pembahasan. Di antaranya adalah terkait infrastruktur, ketahangan pangan, energi, dan manufaktur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Andrew menyanyakan apa yang tercepat? Saya bilang saya ingin fokus pada 4 area, di samping itu disampaikan kerjasama di bidang kesehatan, vaksin, dan biofarma tetap jalan. Pertama adalah Infrastruktur. Infrastruktur itu adalah soal konektivitas," ujar Hatta usai pertemuan di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (18/9/2013)

Kemudian adalah persoalan ketahanan pangan. Menurut Hatta perlunya untuk meningkatkan produksi pangan dan mengurangi ketergantungan impor.

"Meningkatkan kemampuan produksi dalam negeri untuk ketergantungan pada impor. Ia berjanji mendekati dengan teknologi dan produktivitas," jelasnya.

Selanjutnya adalah energi. Hatta mengatakan, Inggris sangat kental dengan ekonomi hijau (green economy). Sehingga cocok dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan (renewable energy).

"Saya undang UK masuk ke renewable energy. Di pulau-pulau kecil butuh pembangkit listrik dan mahal karena transmisi. Dan apakah itu dengan tenaga angin atau surya, ini akan jadi pembahasan cukup lama. Juga geothermal," kata Hatta.

Terakhir yang penting menurut Hatta adalah manufaktur. Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan hilirisasi dalam sektor manufaktur.

"Kita lagi giat hilirisasi tuk kurangi ketergantungan ke bahan impor. Volume eskpor kita dari manufaktor 75%. Tapi kalau buka impor, 76% di manufaktur yaitu bahan baku penolong. Inilah yang harus kita pecahkan," pungkasnya.

Kedua negara sepakat untuk mencapai target perdagangan sebesar 4,4 miliar poundsterling pada tahun 2015. Angka tersebut sudah semakin dekat, mengingat hingga tahun 2012 sudah 3 miliar poundsterling.

"Kedua kepala negara sebelumnya sudah sepakat target untuk menggandakan nilai perdagangan hingga 4,4 miliar poundsterling," ucap Hatta.

(mkj/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads