Padahal SPM ini merupakan syarat untuk pengajuan kenaikan tarif tol. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol BPJT Ahmad Ghani Ghazaly menjelaskan 5 ruas itu tidak lolos karena ada beberapa faktor seperti lampu penerangan jalan yang padam berhari-hari atau masih adanya lubang di jalan tol.
"Lima ruas sampai pemeriksaan, belum masuk (SPM)," ucap Ghani di acara diskusi ruas tol di Hotel Crown Plaza, Jakarta, Kamis (19/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Cawang-Tomang-Grogol-Pluit listrik mati karena pakai solar cell. Ini harus rutin dibersihkan sendiri," terangnya.
Ruas kedua adalah tol Bandara Soekarno Hatta, Prof Sedjiatmo. Tol bandara ini juga mengalami persoalan mati lampu. "Prof Sedjiatmo pada peninjauan belum memenuhi," jelasnya.
Sementara untuk ruas tol Jakarta-Cikampek tidak lulus karena masih terdapat lubang sepanjang jalan tol. "Jakarta-cikampek. Lubang masih banyak ditemui," katanya.
Hal senada terjadi pada tol Jembatan Suramadu dan tol Kanci-Pejagan. Bahkan selama 2 tahun terakhir, tol Kanci-Pejagaan belum lulus SPM.
"Kanci-Pejagan. Ini hampir 2 tahun nggak masuk-masuk. Lalu lintas rendah di bawah 10.000 kendaraan. Ini jadi biaya tombok," sebutnya.
Di tempat sama operator jalan tol pelat merah, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mengakui ada beberapa kekurangan di ruas tol dalam kota dan Bandara Soetta.
"Karena macet, yang kecil pun dilihat. Seperti lubang. Tol dalam kota kita pakai solar cell. Fosil berkurang. Satu-satunya kita ingin unggul. Kita memakai energi lain. Kita menerima konsekuensi. Ini mengurangi polusi," kata Adit.
Untuk menghilangkan predikat tak lulus SPM pemerintah, Jasa Marga pun menyusun SPM sendiri. SPM ini dirancang di atas standar SPM yang dibuat BPJT.
"Pak Hasan (Direktur Operasi Jasa Marga) minta SPM Jasa Marga lebih tinggi dari pemerintah sehingga setiap SPM 6 bulanan dari pemerintah. Nggak ada catatan," pungkasnya.
(/)










































