Sampai sekarang proyek pembangunan 6 ruas tol dalam kota DKI Jakarta belum dimulai. Proyek senilai Rp 41 triliun ini akan jalan menunggu groundbreaking atau pemancangan tiang perdana proyek monorel dan mass rapid transit (MRT).
Hal ini diungkapkan Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Ahmad Ghani Ghazaly di sela diskusi jalan tol di Crown Plaza Hotel, Jakarta, Kamis (19/9/2013).
"Di dalam Perda DKI. Pembangunan tol dalam kota setelah public transportation (transportasi umum). Sekarang public transportation belum dimulai. MRT monorel ayo mulai. Setelah dia groundbreaking, itu (6 ruas tol dalam kota) mulai," ucap Ghani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita masih tunggu surat penetapan kelayakan yang dikeluarkan gubernur. Setelah itu baru pembebasan tanah," jelasnya.
Seperti diketahui, pembangunan keenam ruas tol tersebut dibagi ke dalam beberapa tahap. Tahap pertama akan dibangun ruas tol Semanan-Sunter sejauh 20,23 kilometer dilanjutkan pembangunan tol Sunte-rPulogebang yang jaraknya 9,44 km.
Pembangunan kemudian dilanjutkan di ruas tol Duri Pulo- Kampung Melayu dengan jarak 12,65 kilometer dengan nilai investasi Rp 5,96 triliun dan Kemayoran-Kampung Melayu sepanjang 9,60 kilometer senilai Rp 6,95 triliun.
Tahap terakhir adalah pembangunan ruas jalan tol Pasar Minggu-Casablanca sepanjang 9,15 kilometer dengan investasi Rp 5,71 triliun dan pembangunan tol Tanah Abang-Ulujami. Kontraktor menargetkan awal 2020 enam ruas tol ini sudah selesai pembangunannya dan pertengahan 2020 sudah bisa digunakan.
(hen/dnl)










































