RI-Belarus Tingkatkan Perdagangan Langsung Tanpa Pihak Ketiga

RI-Belarus Tingkatkan Perdagangan Langsung Tanpa Pihak Ketiga

Wahyu Daniel - detikFinance
Selasa, 24 Sep 2013 22:38 WIB
RI-Belarus Tingkatkan Perdagangan Langsung Tanpa Pihak Ketiga
Jakarta - Dua negara beda benua, yaitu Indonesia dan Belarus sepakan meningkatkan kerjasama ekonomi, perdagangan, dan investasi lewat perdagangan langsung, tanpa pihak ketiga.

Langkah ini dilakukan dengan rencana pembentukan joint venture bidang produksi ban dan alat-alat berat.

Demikian salah satu hasil Sidang Komisi Bersama (SKB) IV Indonesia-Belarus Kerjasama Perdagangan, Ekonomi, Ilmu Pengetahuan dan Teknik yang digelar di Bogor pada 23-24 September 2013.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

SKB IV RI-Belarus dihadiri oleh 83 orang delegasi pemerintah dan swasta kedua negara yang dipimpin oleh Dubes Dian Triansyah Djani, Direktur Jenderal Amerika dan Eropa, Kementerian Luar Negeri RI dan Valentin Rybakov, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Belarus. Sidang ini merupakan tindak lanjut dari SKB III di Minsk pada September 2011 dan hasil-hasil pertemuan Presiden RI dengan Presiden Republik Belarus di Jakarta, 19 Maret 2013.

Menurut Dubes Djani, prioritas pembahasan adalah kerjasama perdagangan dan investasi, industri, pertanian, ilmu pengetahuan dan teknologi, sosial budaya dan pendidikan serta kerjasama antar Kamar Dagang dan Industri (KADIN).

Djani lebih lanjut menekankan pentingnya transaksi perdagangan langsung tanpa melalui pihak ketiga, sehingga keuntungan maksimal dapat dinikmati kedua belah pihak. Selain itu, Indonesia mengharapkan pembentukan joint ventures bidang alat-alat berat dan produksi ban dengan karet alam dari Indonesia.

"Indonesia merupakan produsen utama karet alam dan Belarus merupakan produsen ban-ban besar untuk truk dan alat alat berat, termasuk yang dipasarkan di Indonesia dan kawasan ASEAN. Dalam kaitan itu kedua negara diharapkan dapat membentuk joint venture di masa depan," ujar Djani dalam siaran pers, Selasa (24/9/2013).

Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Belarus Valentin Rybakov mengharapkan, warga negara Belarus bisa mendapatkan fasilitas Visa on Arrival (VoA) ke Indonesia karena tidak terdapat perwakilan Indonesia di Belarus. "VoA ini untuk memudahkan pengusaha dan wisatawan Belarus berkunjung ke Indonesia," kata Rybakov.

Belarus memandang Indonesia sebagai negara strategis di ASEAN dan ingin menjadikan Indonesia sebagai hub dalam hubungan Belarus dengan negara-negara di kawasan. Sementara itu, Indonesia ingin menjadikan Belarus sebagai pintu masuk bagi produk-produk Indonesia ke Rusia dan Kazakhstan yang tergabung dalam Customs Union.

Di 2012 lalu, nilai perdagangan Indonesia dan Belarus mencapai US$ 90,684 juta. Pada periode Januari-Juni 2013 nilai perdagangan tercatat US$ 84,34 juta atau meningkat 68%, dibanding periode yang sama tahun lalu yaitu US$ 50,20 juta.

Produk ekspor utama Indonesia ke Belarus antara lain karet alam, produk ikan beku dan olahan, kakao, teh, kopi, minyak sawit dan mebel. Sedangkan produk impor utama Indonesia dari Belarus seperti potasium, ban, alat-alat berat, dan alat-alat pertanian.

Dalam kunjungan ke Indonesia ini, delegasi Belarus telah melakukan sejumlah pertemuan dengan pejabat tinggi Kementerian terkait di Indonesia, yaitu Kementerian Pertahanan dan Kementerian Perdagangan, serta perusahaan-perusahaan Indonesia, yaitu Bakrie Group, OSO Group, dan Wilmar Indonesia.

(dnl/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads