Dolar Tembus Rp 11.000, Pengusaha Jasa Konstruksi Teriak

Dolar Tembus Rp 11.000, Pengusaha Jasa Konstruksi Teriak

Zulfi Suhendra - detikFinance
Rabu, 25 Sep 2013 14:25 WIB
Dolar Tembus Rp 11.000, Pengusaha Jasa Konstruksi Teriak
Jakarta - Penguatan dolar AS yang terus menembus Rp 11.000 mempengaruhi usaha jasa konstruksi di Indonesia. Dolar yang makin mahal ini membuat harga-harga material konstruksi ikut naik.

Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) Tri Widjayanto mengatakan, sektor usaha jasa konstruksi terpukul dengan melemahnya nilai tukar rupiah. Karena sebelumnya, sektor ini ikut bergejolak akibat kenaikan upah minimum provinsi (UMP) dan juga kenaikan harga BBM subsidi.

"Hal ini sangat menganggu pada usaha jasa konstruksi," kata Tri dalam jumpa pers LPJKN di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta, Rabu (25/9/2013).

Tri memaparkan, melemahnya rupiah memicu kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) atau BI Rate, dan ini berdampak pada kenaikan suku bunga perbankan lainnya. Kenaikan BI Rate menjadi 7,25% jelas akan mempengaruhi struktur pembiayaan proyek infrastruktur dalam sektor jasa konstruksi.

Selain itu, pelemahan rupiah juga mempengaruhi kenaikan harga bahan bangunan yang sebagian besar masih harus diimpor. Tri mencontohkan, aspal kenaikan harganya mencapai 15-20%, karena sekitar 900 ribu ton aspal per tahun harus diimpor. Karena kebutuhan aspal di Indonesia mencapai 1,6 juta ton/tahun, namun produksi dalam negeri hanya mencapai 800 ribu ton/tahun.

"Selisihnya aspal kita adalah impor dari negara lain. Jadi akan sangat berpengaruh terhadap industri konstruksi. Pada pelaksanaan anggaran yang ada di pemerintah kebutuhan aspal meningkat akhir triwulan III dan triwulan IV. Di samping itu besi beton. Bahannya bakunyanya masih impor. Naik 10-15%. Beton ready mix naik 12-17%," jelasnya.

(zlf/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads