Tapi ketika Twitter merilis dokumen S-1, sebagai bagian dari proses IPO, pada Kamis pekan lalu, tak ada satu panggilan pun yang mampir ke kantor Granite Investment. Padahal, rencananya IPO akan dilaksanakan kemungkinkan pada bulan depan.
"Tidak ada satu bunyi telepon pun (terkait Twitter)," kata Tim Lesko, pemimpin di Granite Investment Advisors. Lesko pun mengatakan, dirinya pribadi pun akan melakukan aksi wait and see, sampai melihat laporan keuangan Twitter yang lebih lanjut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah ini indikasi bahwa penawaran saham perdana dari Twitter akan sama nasibnya dengan awan gelap yang melingkupi Facebook pada 2012? Pada kasus Facebook, meski menarik perhatian dan dijuluki sebagai 'IPO yang terbesar dalam sejarah Internet', hasil yang didapatkan tak seperti yang diharapkan.
Hari pertama IPO Facebook mengecewakan. Begitu pun berhari dan berbulan kemudian. Saat itu Facebook menawarkan sahamnya sebesar US$ 38 per lembar dengan harapan meraih suntikan modal sebesar US$ 100 miliar atau 99 kali pemasukan 2011. Tapi sambutan investor tak sebaik yang diharapkan. Nilainya terkoreksi ke bawah penawaran semula.
Twitter memang belum menentukan harga. Dalam dokumen S-1 yang dirilis pekan lalu, Twitter menyatakan mereka akan melepas saham sebesar US$ 1 miliar yang diharapkan dapat memberikan suntikan modal baru sebanyak US$ 10 miliar.
Tapi belum-belum analis sudah pesimistis, bila mengingat kerugian Twitter yang mencapai US$ 69 juta pada tahun lalu. "Saat ini, kami pikir Twitter akan mengulang (kegagalan) Facebook, yang terlalu heboh dan harganya kemahalan,” kata Tim Ghriskey, kepala di Solaris Group di New York.
Investor, kata Darren Chervitz dari Jacob Funds, juga akan melihat lambannya pertumbuhan pengguna Twitter. Pada kuartal kedua tahun ini, pertumbuhan pengguna bulanan Twitter 7 persen saja dibandingkan 10 persen pada tiga bulan sebelumnya. Saat ini total pengguna aktif Twitter adalah 218 juta.
(DES/DES)











































