Bank Dunia: Pertumbuhan Ekonomi RI Tahun 2004 4,9 Persen

Bank Dunia: Pertumbuhan Ekonomi RI Tahun 2004 4,9 Persen

- detikFinance
Selasa, 09 Nov 2004 10:43 WIB
Jakarta - Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2004 akan mencapai 4,9 persen, dan pada tahun 2005 mencapai 5,4 persen. Pencapaian pertumbuhan yang lebih baik itu sudah mulai terlihat dari adanya tanda-tanda pemulihan aktivitas investasi yang didukung dengan membaiknya kondisi perekonomian luar negeri. Demikian disampaikan lead economist East Asia and pacific region World Bank, Milan Brahmbhatt dalam teleconference yang dilakukan di Kantor Bank Dunia, Gedung BEJ, Jakarta, Selasa (9/11/2004). Milan menyampaikan hasil outlook Bank Dunia bersama dengan chief economist East Asia and Pacific Region Bank Dunia Homi Kharas. Menurut Milan dengan selesainya pemilu dengan damai, diharapkan pada beberapa bulan ke depan pemerintah bisa melaksanakan paket kebijakan ekonomi yang baru dikeluarkannya. Namun investor masih akan melihat sejauh mana kebijakan itu akan dilaksanakan sehingga menarik perhatian mereka dan juga pasar. Dijelaskan, selama pertengahan pertama tahun 2004, ekonomi Indonesia tumbuh 4,7 persen per tahun. Dan yang menggembirakan adalah adanya pertumbuhan investasi 8,3 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dari pertumbuhan pada pertengahan tahun 2 ahun 2003 yang hanya 0,4 persen. Milan menjelaskan, beberapa indikator lain juga telah menunjukkan adanya pemulihan dalam investasi terutama impor barang modal untuk periode Januari sampai September yang tumbuh 35,3 persen. Namun demikian diakui Bank Dunia berbagai angka pertumbuhan tersebut terlihat tinggi karena merupakan peningkatan dari tingkat investasi yang sangat rendah di tahun 2003 sehingga pertumbuhan investasi yang pesat dan berkelanjutan masih sangat diperlukan. "Untuk itu dibutuhkan perbaikan dalam iklim investasi," katanya.Milan juga memaparkan mengenai data ketenagakerjaan yagn telah membaik dimana data kuartal terakhir menunjukkan penurunan data pengangguran terbuka dari 8,5 persen pada Agustus 2003 menjadi 7,4 persen. Sementara sentimen pasar dinilai bank Dunia juga mulai positif yang tercermin dari ledakan bom di kedubes Australia beberapa waktu yang lalu tidak memberi efek berarti. Sementara untuk rasio utang pemerintah juga sudah mulai mengalami penurunan menjadi 5,3 persen pada Juni 2004 dari 8,1 persen pada tahun 2000. Sementara pada periode yang sama utang luar negari juga turun dari 8,6 persen menjadi 5,3 persen. "Terlepas dari perkembangan dalam bidang investasi, iklim investasi di Indoneis masih kurang mendukung perkembangan itu terutama jika dibandingkan dengan negara-negara pesaing," ujar Milan. Terkait masalah fiskal, Milan menilai revisi APBN 2004 khususnya mengenai BBM dari sudut pandang efisiensi pengurangan subsidi BBM masih menjadi tantangan berat bagi pemerintahan baru Indonesia mengingat pada APBN 2004 subsidi membengkak dari 15 triliun menjadi Rp 59 triliun. (qom/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads