Bank Dunia: Pertumbuhan Asia Timur & Pasifik Bisa Capai 8 %
Selasa, 09 Nov 2004 11:30 WIB
Jakarta -
Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik diluar Jepang pada tahun 2004 mencapai 7 persen, bahkan bisa mencapai 8 persen. Demikian disampaikan lead economist East Asia and pacific region World Bank, Milan Brahmbhatt dalam teleconference yang dilakukan di Kantor Bank Dunia, Gedung BEJ, Jakarta, Selasa (9/11/2004). Milan menyampaikan hasil outlook Bank Dunia bersama dengan chief economist East Asia and Pacific Region Bank Dunia Homi Kharas. Dijelaskan Milan, perekonomian di Kawasan Asia Timur mencatat pertumbuhan tercepat sejak krisis keuangan. Sementara penduduk dibawah garis kemiskinan juga telah berkurang secara significan. "Jadi pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan kawasan Asia Timur dan Pasifik diluar Jepang diharapkan mencapai 7 persen. Pertumbuhan ini akan dirasakan baik oleh negara miskin maupun negara yang perekonomiannya berpenghasilan menengah," papar Milan. Sementara tingkat ekspor pada tahun 2004 di kawasan ini mencatat kinerja terbaik yang didukung oleh tingginya permintaan dari Cina, pemulihan ekonomi global, bangkitnya kembali industri berteknologi tinggi dan menguatnya harga komoditas. Selain itu aktifitas investasi juga mengalami pemulihan yang memberikan kontribusi setengah dari pertumbuhan di kawasan ini. "Kinerja yagn menggembirakan ini telah mengangkat penduduk Asia Timur dari kemiskinan. Sebagian besar dari mereka berda di Cina, Indonesia, Thailand dan Vietnam," ujarnya.Sementara Wapresdir Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Jemal-ud-din Kassum memperkirakan pada akhir tahun ini jumlah orang yang berpenghasilan kurang dari US$ 2 per hari akan menjadi sepertiga dari keseluruhan populasi di wilayah ini. "Jumlah penduduk miskin mencapai angka absolut terendah sepanjang masa. Bahkan jika perkembangan di Cina tidak diperhitungkan, hal ini menunjukkan kawasan ini telah dapat mengatasi masalah tingginya kemiskinan akibat krisis ekonomi tahun 1997," kata Kassum.Kassum menjelaskan, perkembangan ini terjadi bersamaan dengan perubahan politik mendasar yang sedang berlangsung seperti berbagai pemilihan legislatidf dan pemilihan presiden termasuk pemilu langsung di Indonesia sehingga pada tahun 2004 pertumbuhan di kawasan ini cukup membaik.
(qom/)










































