"Di Eropa dan negara maju lainnya kalau libur itu ada namanya holiday market, dimana banyak sale-sale (diskon) di mal, ditempat wisata dan lainnya, ini justu mengungtungkan bagi pengusaha karena orang banyak belanja," ungkap Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal ketika dihubungi detikFinance, Selasa (15/10/2013).
Menurut Said, hal yang sama juga terjadi di Indonesia, banyak masyarakat yang libur menyerbu mal, tempat wisata, berburu pakaian di Bandung, Bali, Jogyakarta, Puncak dan lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Said mengatakan hal tersebut menguntungkan bagi pengusaha yang menyasar pasar domestik, lalu bagaimana dengan pengusaha yang tujuannya pasar ekspor?
"Pengusaha yang orientasinya pada pasar ekspor punya kalender dan libur sendiri, kalender mereka disamakan dengan pasar ekspor mereka di Eropa, Jepang atau Amerika, kalau negara pasar ekspornya libur ya mereka libur juga, mereka tidak mengikuti kalendernya pemerintah," katanya.
Said mengakui banyaknya hari libur di Indonesia menjadi beban pengusaha, apalagi belum dihitung dengan jatah cuti para buruh.
"Saat-saat puncak musim seperti November-Desember karena menyambut Natal dan Tahun baru, disaat yang bersamaan banyak pekerja atau buruh ramai-ramai menghabiskan jatah libur mereka yang memang itu hak pekerja, sehingga banyak yang libur dan liburnya dirasa banyak sekali," tutup Said.
(rrd/hen)











































