"Itu hal yang tidak benar, kehadiran ritel modern tidak akan membunuh pasar tradisional," kata Sekjen Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Satria Hamid ketika berbincang dengan detikFinance, Minggu (20/10/2013).
Satria mengungkapkan seberapa jauh pun suatu ritel berdiri, jika pasar tradisional tidak direvitalisasi, tetap becek, kotor dan sebagainya maka lambat laun akan ditinggal pembeli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini ada beberapa Pemerintah Daerah yang menerapkan pembatasan keberadaan ritel, tujuannya agar tidak mematikan pasar tradisional.
"Itu aturan yang tidak tepat. Ritel tradisional dengan modern itu bisa hidup berdampingan, seperti di Yogyakarta, di Pasar Ambarukmo, itu pasar tradisional dengan ritel modern bersampingan, mati pasarnya? Tidak justru saling melengkapi. Masyarakat habis dari pasar tradisional siangnya mampir ke ritel modern, mal-nya hidup kembali karena ada ritel modern yang hadir di sana," katanya.
Satria menegaskan justru keberadaan ritel modern sangat menguntungkan bagi pemerintah daerah dan masyarakat.
"Ritel modern itu mandiri, tidak membebani APBD, ritel modern menyerap tenaga kerja banyak, mendistribusikan barang kebutuhan yang baik, bersih, penyetor pajak untuk negara dan daerah dan ujungnya berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi suatu daerah," ungkapnya.
(rrd/ang)











































