Supaya Komuter Tak Berteman Ayam Berkokok

Penggalan Kisah Lain Monorel dan MRT (1)

Supaya Komuter Tak Berteman Ayam Berkokok

Hidayat Setiaji - detikFinance
Rabu, 23 Okt 2013 10:00 WIB
Supaya Komuter Tak Berteman Ayam Berkokok
Foto: Detikcom
Jakarta - Ricky Sihombing masih bersabar untuk hidup sebagai seorang komuter sejati. Saat ayam baru berkokok, dia harus sudah berangkat dari rumahnya di bilangan Ciputat dengan bus kota menuju kantornya di Jalan Sudirman, Jakarta. Itu dilakoninya setiap hari.

Tak heran ketika proyek monorel dan Mass Rapid Transit (MRT) digulirkan kembali, sontak harapan Ricky pun bungah. “Saya berharap MRT bisa selesai tepat waktu, bahkan kalau bisa lebih cepat,” kata pria 35 tahun yang bekerja sebagai karyawan swasta itu kemarin.
 
Perjalanan berjam-jam menuju pusat kota Jakarta bagi para komuter adalah hidup yang harus diakrabi saban hari dengan sabar. Sarana transportasi publik yang membawa kaum komuter dari pinggiran Jakarta menuju ibukota memang belum sanggup menampung mereka semua.

Ini belum termasuk soal kenyamanan dan keamanan sarana transportasi tersebut. Tak heran kemudian banyak yang lebih memilih kendaraan pribadi meski semakin membikin macet lalu lintas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak lama wacana pembangunan MRT dan monorel didengungkan. Dono Boestami, Direktur Utama PT MRT Jakarta mengatakan wacana MRT sudah ada sejak 25 tahun lalu. "Lima kali ganti presiden belum terlaksana,” ujarnya kemarin.
 
Sedangkan monorel sejatinya sudah mulai dibangun pada 2003. Namun karena ada masalah dengan pihak kontraktor, proyek tersebut berhenti pada 2004 dengan menyisakan tiang-tiang pancang di sejumlah titik. Sejak 2004, tiang-tiang tersebut nyaris tidak berguna.
 
Setelah beberapa proses yang dilalui, kini dua moda transportasi itu mulai bangkit dari tidur. Bulan ini, pemerintah provinsi DKI Jakarta telah meletakkan batu pertama (groundbreaking) untuk pembangunan MRT dan monorel.
 
Apa perbedaan MRT dengan monorel? MRT tidak berbeda dengan kereta api yang sudah ada di Jakarta saat ini. Namun MRT akan dibuat melalui jalur bawah tanah (subway) dan atas tanah (elevated). Sementara monorel adalah kereta yang ditopang rel tunggal dan berjalan di atas tanah.
 
Kedua proyek transportasi massal ini memang masih butuh waktu yang lama sebelum bisa dinikmati. Pembangunan MRT tahap I jalur Lebak Bulus-Bundaran HI diperkirakan baru selesai pada 2017 atau 2018.

Adapun MRT jalur hijau (Palmerah-Sudirman) direncanakan selesai 2016. Sedangkan jalur biru (Kampung Melayu-Kuningan-Grogol) selesai pada 2017.
 
Ricky sudah tak sabar proyek itu selesai. Dia percaya masalah kemacetan yang dihadapinya bisa terselesaikan kalau proyek itu selesai. Orang-orang pun meninggalkan kendaraan pribadi di rumah. Dan Ricky tak perlu berangkat kerja pada saat ayam baru berkokok.

“Kalau MRT atau monorel itu bagus, nantinya mungkin orang-orang tidak lagi memilih naik mobil pribadi. Kemacetan Jakarta akan banyak berkurang. Bukan hanya saya, semua warga Jakarta akan lebih bahagia,” tuturnya.

(DES/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads