Komik Itu Instrumen Investasi Teraman

Hobi dan Investasi Berharga, Komik Namanya (1)

Komik Itu Instrumen Investasi Teraman

Hidayat Setiaji - detikFinance
Jumat, 25 Okt 2013 09:45 WIB
Komik Itu Instrumen Investasi Teraman
Jakarta - Sejak duduk di bangku sekolah taman kanak-kanak, Adji Widodo sudah gemar membaca komik. Komik pertama yang dibacanya adalah terbitan lokal, yang penjualannya telah mencapai Malang, tempat Adji tinggal sebelum hijrah ke Jakarta.

Komik-komik lokal, kata Adji, tak jarang menampilkan sesuatu yang unik. Salah satunya adalah masuknya tokoh komik Amerika Serikat ke dalam kisah mereka. “Saya pernah baca Gundala versus Superman, dari situ saya kenal superhero komik Amerika,” kata Adji, di Jakarta kemarin.

Setelah pindah ke Jakarta, pegawai di bank swasta ini tetap suka membaca komik dan memperluas koleksinya ke komik-komik terbitan Amerika Serikat. Favoritnya adalah terbitan DC Comics dengan tokoh-tokoh populernya seperti Superman, Batman, dan sebagainya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kegemaran ini mengantarkan Adji menjadi ketua salah satu komunitas penggemar komik di Indonesia. Anggota mereka bahkan sudah mencapai ribuan orang, tersebar dari berbagai kota di tanah air sampai ke luar negeri.

Penggemar komik di Indonesia terbilang fanatik, terutama terhadap komik-komik keluaran Amerika Serikat. Maklum, tak seperti komik Jepang, komik terbitan AS tak dijual secara masif di sini. Jadi, pehobinya harus berburu lebih gigih. Inilah seninya jadi pehobi komik AS.

Di AS sendiri, komik mulai dikenal pada era 1930-an dan mulai populer pada 1938, sejalan dengan dirilisnya Action Comics yang menyertakan tokoh Superman. Setelah itu, berbagai tokoh superhero pun bermunculan.

Pasca Perang Dunia II, komik dengan superhero sebagai tokoh utama mengalami penurunan. Kala itu, komik hewan-hewan lucu, romantis, dan humor menjadi pilihan masyarakat. Pada 1950-an, komik superhero bahkan mengalami penurunan tajam terutama akibat kebijakan sensor ketat dari pemerintah dan booming industri televisi.

Barulah pada 1960-an genre komik superhero kembali mencuat. Pahlawan-pahlawan baru diperkenalkan, dan genre ini menjadi yang paling dominan di industri komik AS sampai sekarang.

Pada akhir abad ke-20, komik meraih status baru: sebagai benda koleksi yang berharga. Beberapa seri komik lama bahkan dihargai jutaan dolar AS.

Salah satu penggila komik adalah Vincent Zurzolo, pemilik Metropolis Collectibles di New York. Walau usianya sudah lebih dari 40 tahun, komik tetap menjadi dunianya dan kini menjadi bisnis bernilai jutaan dolar AS baginya.

Zurzolo adalah kolektor edisi Action Comics No. 1 yang terjual US$ 2,1 juta atau sekitar Rp 21 miliar, pada 2011. Komik ini merupakan debutan tokoh Superman.

Oleh karena itu, Zurzolo menilai komik merupakan salah satu instrumen investasi terbaik. “Instrumen investasi apa yang bisa membuat sesuatu berharga beberapa sen pada 1938 dan sekarang bernilai US$ 2,1 juta?” tuturnya seperti dikutip dari marketwatch.com.

Komik, lanjut Zurzolo, menjadi investasi yang aman ketika masa krisis karena tidak terpengaruh dengan gejolak pasar keuangan. “Saat ekonomi sedang lesu, orang akan mencari alternatif investasi. Oleh karena itu, ketika ekonomi sedang bagus belilah komik,” ucapnya.

Zurzolo menilai komik lebih mudah dijual kembali (likuid) dibandingkan properti. Di sebuah konvensi penggemar komik saja, ada 30-150 ribu orang berkumpul dan di antara mereka ada para jutawan. “Sekarang menjadi seorang nerd itu keren,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Zurzolo, berburu komik lebih menyenangkan dibanding berburu saham. “Kita tidak perlu melihat fundamental perusahaan, neraca laba-rugi, kondisi pasar modal, dan sebagainya. Kita hanya perlu membaca Superman, Batman, atau Spider-Man dan kemudian masuk di daftar orang terkaya Forbes,” jelasnya.

(DES/DES)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads