Lahan Menjadi Kendala Utama Pengembangan Bandara di RI

Lahan Menjadi Kendala Utama Pengembangan Bandara di RI

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Senin, 28 Okt 2013 09:25 WIB
Lahan Menjadi Kendala Utama Pengembangan Bandara di RI
Jakarta - PT Angkasa Pura I (AP I) selaku operator 13 bandara komersial menilai kendala utama pengembangan atau pembangunan bandara baru di Indonesia adalah lahan. Padahal pertumbuhan penumpang dan pesawat di Indonesia mencapai 14% hingga 16% per tahun.

Kondisi ini harus diikuti dengan pengembangan terminal hingga pembangunan bandara baru yang cepat. "Kalau tantangan pengembangan bandara itu pertama land acquisition (pembebesan lahan). Kita mengimbau agar pemerintah lebih cepat di dalam membuka kesempatan para pihak AP ataupun swasta untuk mengelola bandara," ucap Direktur Utama AP I Tommy Soetomo saat berbincang dengan detikFinance di Kantor Pusat AP I, Kemayoran Jakarta, yang dikutip Senin (28/10/2013).

Seperti pembangunan bandara baru di Yogyakarta dan pengembangan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, saat ini menghadapi persoalan lahan. Namun persoalan ini harus diselesaikan karena tuntutan tingginya pertumbuhan penumpang dan pesawat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tapi harus kita tempuh kalau nggak kita berhenti," sebutnya.

Diakuinya pengembangan bandara lama dan baru memiliki efek tinggi terhadap perekonomian di area bandara. Sehingga diperlukan dukungan pemerintah daerah dalam pengembangan bandara lama atau pembangunan bandara baru.

"Kalau semakin banyak yang berperan beban pemerintah lebih ringan. Kesempatan mengembangkan kota lebih besar," katanya.

Kendala lain yang dihadapi AP I dalam pengembangan bandara adalah terkait perizinan. Karena lahan beberapa bandara yang dikelola AP I merupakan milik TNI.

"Lahan atau airport yang kita kelola itu kebanyakan milik TNI. Itu yang susah dikembangkan," sebutnya.

Saat ini, AP I sedang melakukan pengembangan bandara seperti di Bandara Ngurah Rai, Bandara Sepinggan, Bandara Achmad Yani, Bandara Juanda, Bandara Syamsudin Noor, Bandara Adisumarmo serta pembangunan bandara baru Yogyakarta.

(hen/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads