Tomita adalah staf di bagian sumber daya manusia di sebuah bank Prancis. Dia sangat fasih berbahasa Prancis dan memiliki dua gelar sarjana.
Tomita bilang memang menghindari hubungan romantis supaya tetap bisa fokus bekerja. Tomita mengatakan perempuan akan kehilangan kesempatan dipromosikan begitu dia menikah. “Itu bukan pilihan saya,” katanya.
Perempuan cantik ini bilang, hidupnya sekarang bebas-bebas saja. Dia bisa bepergian dengan teman-temannya kapan saja. Soal seks, kadang-kadang dia bisa melakukan one night stand alias seks semalam, dengan pria yang ditemuinya di bar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mendokusai ini bisa berarti “Bodo amat..” atau “Saya tidak akan terganggu..”. Kata ini ternyata kerap diucapkan orang-orang yang punya phobia akan hubungan romantis.
Lain Tomita, lain pula Satoru Kishino, 31 tahun. Lelaki ini tak mau berpacaran karena tak punya pendapatan yang cukup untuk memiliki seorang pacar. Dia pun memilih sibuk dengan pekerjaan atau hobinya.
Orang-orang seperti Kishino dijuluki “Lelaki herbivora”: lelaki heteroseksual yang menilai berkencan dan seks tidaklah penting. Dua tahun lalu, jumlah mereka mencapai 36 persen dari total populasi pria di negeri itu.
Terminologi ini dipopulerkan oleh Maki Fukasawa, seorang penulis kultur pop Jepang, pada 2006. Perempuan ini memakai istilah itu untuk menggambarkan perubahan ide maskulinitas di antara kaum pria di Jepang.
Fukasawa bilang, di Jepang seks kini diterjemahkan sebagai 'hubungan daging'. “Saya menamai para pria itu sebagai lelaki herbivora karena mereka tak tertarik pada 'daging',” katanya. Mereka, kata Fukasawa lagi, percaya pertemanan tanpa seks bisa terjadi antara pria dan wanita.
Lebih lanjut Fukasawa mengatakan, lelaki herbivora lahir di era perekonomian yang kurang baik sehingga nyaris tak punya hasrat besar dan berorientasi pada tujuan. Berbeda dengan orang tua mereka yang disebut generasi baby boomer, yang agresif dan proaktif soal romantisme dan seks.
Junichiro Hori, bekas jurnalis CNN yang menyebut dirinya sebagai lelaki herbivora, mengatakan mereka melihat kerapuhan bukan lagi sebuah kelemahan pria. “Saya tidak takut menunjukkan kerapuhan atau sensitivitas saya, karena itu bukan lagi kelemahan,” katanya.
Resesi ekonomi, kata Hori, adalah penyebab utama fenomena itu. Kebanyakan mereka berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang tinggi di negeri itu. Belum lagi ancaman pengangguran. Angka 5 persen pengangguran di Jepang adalah yang tertinggi sejak 2003.
Ketika perekonomian sulit, kaum pria harus bekerja ekstra keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saat itulah mereka tak tertarik pada hubungan berkomitmen. “Saya tak mau bertanggung jawab atas seorang perempuan yang berharap akan menikah nanti,” kata Kishino.
(DES/DES)











































