Jepang, Negeri Yang Terancam Punah?

Sindrom Selibat Mengepung Jepang (4)

Jepang, Negeri Yang Terancam Punah?

Deddy Sinaga - detikFinance
Senin, 28 Okt 2013 16:20 WIB
Jepang, Negeri Yang Terancam Punah?
Foto: Reuters
Jakarta - Shinzo Abe harus segera bertindak. Kalau Perdana Menteri Jepang itu diam saja, populasi Jepang diperkirakan akan terus menurun dan pada satu titik, terancam akan punah. Berdasarkan penelitian, Jepang akan kehilangan sepertiga populasinya pada 2060 kalau angka kelahiran tak didorong.

Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang mendapati angka kelahiran anak di Jepang terus menurun. Tahun ini angka kelahiran di Jepang adalah 1.037.101, turun 13.705 kelahiran dibandingkan 2012.

Pemerintah bukannya tak melakukan apa-apa. Salah satunya adalah dengan memberikan buku panduan kepada para pemudi di sana untuk mau memiliki anak. Tapi tindakan ini malah diprotes kelompok pembela hak perempuan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kalau ingin populasi tetap stabil, angka fertilitas harus dijaga 2,0 per perempuan. Yang terjadi saat ini adalah, bahkan sejak 2005, angka fertilitasnya adalah 1,26 kelahiran per perempuan.

Sementara angka mortalitas alias kematian sangat tinggi. Pada 2012 angkanya mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, yaitu 1.256.254 kematian, naik 3.188 kematian dibandingkan 2011. Angka 2011 juga naik 50.000 kematian dibandingkan 2010.

Ini sudah tahun ke enam di mana angka kematian lebih tinggi daripada angka kelahiran. Jelas ini alarm bagi Jepang.

Alih-alih ambil pusing atas alarm itu, kaum muda Jepang justru kian tak tertarik pada hubungan jangka panjang seperti pernikahan. Ada generasi lelaki yang disebut herbivora, sibuk memikirkan karir atau kehidupan sendiri dan tak memprioritaskan pernikahan dan seks. Kaum perempuannya pun sibuk mengejar karir, meski sesekali bisa juga memenuhi kebutuhan akan seks dengan pacar atau pria baru dikenal di sebuah bar.

Ada juga generasi lelaki yang dinamai otaku. Mereka ini orang-orang yang lebih menyukai komik manga, anime, dan komputer. Lihatlah mereka di Akihabara, pusat elektronik dan subkultur manga serta anime di Tokyo. Mereka adalah generasi yang tumbuh dalam stagnasi ekonomi selama 20 tahun dan lebih suka hidup dalam dunia fantasi, termasuk soal relasi dengan lawan jenis.

Jangan kira semuanya pria lajang. Salah satunya adalah Nurikan. Lelaki 37 tahun ini sudah menikah tapi tak bisa melepas kehidupan virtualnya. Nurikan kini sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis bernama Rinko, gadis virtual dalam konsol game Nintendo yang dimainkan Nurikan.

Dalam dunia virtual itu Nurikan dan Rinko berkencan. Dalam game itu Nurikan masih berusia 15 tahun, begitu juga Rinko. Kenapa masih terobsesi pada permainan semacam itu? "Pada masa sekolah, Anda bisa berhubungan dengan perempuan tanpa harus memikirkan soal pernikahan," katanya, terkekeh.
 
Nurikan akan membelikan cake saat Rinko berulang tahun. Pada pagi hari, Nurikan akan menjemput Rinko ke rumahnya. Sesekali mereka berkencan di taman. “Kalau saya punya waktu, saya akan melanjutkan hubungan ini selamanya,” kata sosok yang merahasiakan Rinko dari istrinya itu.

  (DES/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads