Diecast, Mainan yang Makin Menggila

Hobi Mobil-mobilan Diecast (1)

Diecast, Mainan yang Makin Menggila

- detikFinance
Jumat, 01 Nov 2013 09:58 WIB
Foto: Hidayat Setiaji (Detikcom)
Jakarta - Noval Ariawan sudah berusia 37 tahun sekarang. Tapi sampai kini, pebisnis ini masih bermain dengan mobil-mobilan. Tentu saja caranya tak seperti anak kecil.

Noval adalah seorang pehobi mobil diecast. Koleksinya mencapai 600 mobil diecast dari berbagai merek. Mobil-mobil kecil berjumlah 500 unit, sisanya adalah mobil-mobilan besar.

Hobi itu diawalnya sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. “Waktu itu saya mulai dari Hot Wheels,” katanya, di Jakarta kemarin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diecast adalah logam cair yang kemudian dibentuk jadi miniatur mobil. Ada beberapa perusahaan yang kondang di bisnis ini, yaitu Mattel dengan Hot Wheels-nya, Maisto, Matchbox, Majorette, Sankyo, Tomica, dan sebagainya.

Mobil jenis ini tak hanya disukai anak-anak. Orang dewasa pun rupanya banyak yang gandrung dengannya. “Biasanya yang suka itu hobi otomotif. Itu bakal kecanduan,” ujar Noval, yang kini berbisnis diecast lewat toko DC Toys.

Pada awal diperkenalkan, sekitar awal abad ke-20, teknologi diecast masih belum sebagus sekarang. Saat itu seringkali mobil diecast retak tanpa sebab yang jelas. Oleh karena itu, jarang sekali mobil diecast dari era sebelum 1940-an ditemukan dalam kondisi bagus.

Awalnya mobil diecast diciptakan oleh perusahaan otomotif sebagai konsep untuk produk baru atau keperluan promosi. Tapi lama kelamaan, mobil diecast jadi mainan, meski tetap tak meninggalkan ciri khasnya sebagai replikasi mobil betulan, dengan detilnya sampai ke bagian interior.

Tapi pada 1950-an pehobi mobil diecast mulai beralih jadi kolektor dan semakin banyak perusahaan yang menjadi produsennya. Satu dekade kemudian, semakin banyak orang dewasa yang menjadi kolektor.

Melihat peluang itu, produsen kemudian membuat mobil diecast khusus untuk orang dewasa. Mobilnya dibuat semakin rumit dan mendetil, bak mobil aslinya. Lalu pada 1990-an, ketika pendokumentasian mobil diecast dilakukan, harganya melambung.

Semakin banyak produsen yang membuat mobil diecast berstatus limited edition sehingga harganya menjulang. Tapi ini tak mencegah kolektor yang juga memburu miniatur yang berlisensi produsen mobil asli. Karena mengingat lisensi membutuhkan biaya tinggi, produsen miniatur pun menjual produk berlisensi dengan harga yang tinggi pula.

Lalu bagaimana dengan para penggiat di Indonesia? Eduard Sutarto, anggota komunitas One Eighteenth Indonesia, menilai para pehobi miniatur mobil diecast di Indonesia juga semakin menggila.

“Kolektor semakin bertambah, komunitas juga berkembang. Ke depannya, ini akan semakin menggila,” kata Eduard.


(DES/DES)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads