Serangan Terhadap Paramedis di China Makin Parah

'Medan Tempur' Baru China: Rumah Sakit (1)

Serangan Terhadap Paramedis di China Makin Parah

Deddy Sinaga - detikFinance
Senin, 04 Nov 2013 14:15 WIB
Serangan Terhadap Paramedis di China Makin Parah
Dokter di China sedang melakukan tindakan operasi (Foto: Reuters)
Beijing - November baru saja tiba. Tapi rumah sakit umum terbesar di Wenling, Provinsi Zhejiang, itu lumpuh. Alih-alih bekerja, paramedis, dokter, dan staf rumah sakit turun ke jalan melancarkan protes.

Aksi itu rupanya dipicu tindakan kekerasan yang dilakukan seorang pasien beberapa hari sebelumnya. Sebanyak tiga dokter ditikam. Seorang di antaranya tewas.

Rumah sakit di China kini sedang menghadapi peperangan baru. Bukan hanya melawan penyakit yang makin berbahaya, tapi juga sedang 'bertempur' melawan pasien.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kalau kalimat di atas terasa ekstrim, mari mencermati data dari ikatan dokter China berikut. Staf medis diserang pasien rata-rata satu kali setiap dua pekan di setiap rumah sakit di China.

Pada dua pekan terakhir ada enam kasus serius, termasuk di Provinsi Guangdong pada 21 oktober yang lalu. Saat itu Dokter Xiong Xuming dipukuli keluarga pasiennya gara-gara melarang mereka masuk ruang ICU. Tubuh Dr Xuming terluka parah dan matanya rusak.

Lalu empat hari kemudian terjadilah tragedi di Provinsi Zhejiang itu. Dr. Wang Yunjie ditikam sampai mati oleh pasiennya sendiri. Si pasien berusia 33 tahun itu tak gembira dengan hasil operasi hidungnya.

Sebanyak lebih dari 1.000 orang menghadiri pemakaman Dr. Yunjie. Selain menyatakan rasa duka, mereka juga melancarkan unjuk rasa menyerukan pemerintah mengambil langkah cepat mengatasi kasus itu.

Sejak 2002, serangan terhadap paramedis naik rata-rata 23 persen per tahun. Begitu kata Masyarakat Manajemen Rumah Sakit China dalam artikel yang dimuat di jurnal perkumpulan dokter China pada Desember lalu.

Pada pekan lalu, Perdana Menteri Li Keqiang pun urun bicara. Dia meminta semua departemen mencari jalan keluar demi melindungi praktek kedokteran.

Pengamat menilai, timbulnya permasalahan itu dipicu berbagai faktor. Di antaranya adalah rendahnya kepercayaan publik pada para dokter, tingginya biaya perawatan kesehatan, dan korupsi.

Tingginya biaya kesehatan, menurut pengamat, bahkan dapat membikin bangkrut keluarga di China. Alhasil, masyarakat yang sudah merogoh kocek dalam-dalam menginginkan hasil yang positif. Kalau sebaliknya, dengan mudah mereka akan menyalahkan dokter dan melakukan kekerasan.

Kasus-kasus yang disoroti umumnya yang terjadi di rumah sakit besar. Padahal, menurut Deng Liqiang, dari departemen hukum Asosiasi Dokter China, yang paling parah justru terjadi di rumah sakit kecil.

"Sangat mudah menemukan kasus-kasus kekerasan di rumah sakit daerah atau rumah sakit kelas tiga," kata Liqiang.

Apa sebabnya? Liqiang menyalahkan pemerintah yang mengurangi subsidi untuk rumah sakit. Pada era 1980-an, pemerintah berinvestasi sampai 60 persen. Tapi sejak reformasi kesehatan pada 2009, subsidinya hanya 20 persen. Untuk menutupi kekurangan itu rumah sakit harus mencari duit sendiri.

Ini menyebabkan gap yang besar antara rumah sakit dengan tenaga paramedis dan fasilitas yang bagus, dengan rumah-rumah sakit kecil di daerah-daerah. Rumah sakit bagus biasanya terkonsentrasi di kota besar, sementara yang di kota kecil kurang memadai.
Β 
Tapi apa tindakan pemerintah? Komisi Perencanaan Kesehatan dan Keluarga Nasional di China justru meminta rumah sakit meningkatkan keamanannya. Mereka mengharuskan rumah sakit mempekerjakan tenaga keamanan, satu per 20 pasien. Jumlah total tenaga keamanan minimal 3 persen dari total tenaga medis.

(DES/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads