Han Xuejun, Direktur Komite Mediasi Perselisihan Medis di Provinsi Shanxi mengatakan, sebanyak 80 persen pasien di China berada di daerah atau pedesaan. “Sedangkan 80 persen perawatan kesehatan yang bagus justru ada di kota-kota,” katanya.
Alhasil, kata Xuejun, perawatan kesehatan jadi mahal dan sulit juga bagi pasien untuk bisa bertemu langsung dengan dokter. Mereka pun berbondong-bondong ke kota. Dokter-dokter di kota jadi terlalu banyak pekerjaan dan pening kepala.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Risiko dokter pria berusia 35 tahun ke atas mengalami gangguan jantung itu meningkat dua kali ketimbang orang biasa. Lantas, sebanyak 70 persen dokter di China pun mengalami sakit di leher dan punggung.
Tapi apa respon dari masyarakat? Kebanyakan tak mau tahu. Mereka menyatakan rumah sakit terlalu berorientasi pada keuntungan finansial. Pasien sering diminta menjalani perawatan yang lebih mahal, atau bahkan sebenarnya tak perlu, atau memindahkan mereka ke rumah sakit lain seenaknya.
“Harapan pasien terhadap dokter dan perawat terlalu tinggi, tapi mereka sendiri tak tahu banyak soal penyakit dan bagaimana mengatasinya,” kata Liu Yang, Direktur Departemen Kesehatan Provinsi Shanxi.
Hal itu kemudian kerap menimbulkan salah paham dan kekerasan terhadap paramedis. Di sisi lain, kekerasan demi kekerasan ini membuat lebih banyak lagi mahasiswa kedokteran maupun sekolah perawat jadi ogah bekerja di rumah sakit, khususnya di daerah kecil.
Tiap tahun ada 600 ribu mahasiswa kedokteran yang lulus dari berbagai universitas di China. “Tapi hanya satu dari enam orang yang mau menjadi dokter,” kata Li Ling, guru besar di Univertas Peking.
Crawford Kilian, seorang penulis soal kedokteran asal New York yang terkenal, mengatakan ada kenalannya di China menikah dengan seorang dokter, yang kemudian memutuskan meninggalkan pekerjaannya lantaran merasa sangat terancam jiwanya.
“Dia akhirnya mengajar sejarah di universitas lokal,” kata Kilian.
Belum lagi jalan menuju dokter juga panjang. Sebelum bekerja di rumah sakit, mahasiswa kedokteran mesti belajar selama 5-8 tahun. Lalu mereka harus menghabiskan waktu 10 tahun lagi sebelum dipercaya bekerja sendiri. Ketika sudah berkompeten, biasanya mereka sudah terlalu tua untuk bekerja di departemen klinis atau melakukan operasi.
“Apa yang sangat dibutuhkan saat ini adalah tenaga terapis yang ahli, bukan dokter dengan pendidikan tinggi,” kata Bai Jigeng, Direktur Rumah Sakit Anak Provinsi Shanxi.

(DES/DES)










































