Ini Negara Dengan Upah Buruh Di Bawah Indonesia

Buruh Menuntut (Lagi) Kenaikan Upah (4)

Ini Negara Dengan Upah Buruh Di Bawah Indonesia

Hidayat Setiaji - detikFinance
Rabu, 06 Nov 2013 15:58 WIB
Ini Negara Dengan Upah Buruh Di Bawah Indonesia
Jakarta - Buruh mengusulkan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta sebesar Rp 3,7 juta lebih. Tapi Dewan Pengupahan menyetujui angka Rp 2,5 juta per bulan. Buruh pun berencana memperjuangkan terus angka yang diusulkan, termasuk akan menggugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara.

Muhammad Rusdi, Sekretaris Jenderal Konferedasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), mengatakan rezim buruh murah di Indonesia harus diakhiri. β€œKami berharap debat kesejahteraan ini terus digaungkan,” ujarnya, di Jakarta pada awal pekan ini.
Β 
Kalau dicermati, pengupahan buruh di Indonesia masih lebih baik dibandingkan beberapa negara di Asia. Soalnya masih ada sejumlah negara di Asia yang upah buruhnya sangat murah. Negara mana saja?

Myanmar (US$ 15,22 atau sekitar Rp 153.000 per bulan)

Ketika berada dalam kekuasaan Inggris, Myanmar (atau Burma) merupakan salah satu negara termakmur di Asia Tenggara. Myanmar pernah menjadi eksportir beras utama dunia, selain beberapa komoditas seperti minyak, perak, dan batu-batu berharga. Namun ketika Perang Dunia II, Inggris menghancurkan ladang emas dan berbagai pertambangan untuk menghadang ekspansi Jepang di Asia Tenggara. Jadilah Myamar luluh lantak dan kini menjadi salah satu negara termiskin di Asia Tenggara. Isolasi ekonomi akibat kekuasaan junta militer membuat negara ini kekurangan tenaga kerja ahli.

Kamboja (US$ 61 atau sekitar Rp 620 ribu per bulan)

Negara ini masih mengandalkan pertanian sebagai sektor utama penggerak ekonomi. Selain itu, Kamboja juga memiliki industri manufaktur seperti garmen, walau belum terlalu berkembang. Sektor pariwisata juga berkembang di negara yang dulu dikuasai Khmer Merah ini.

Pakistan (US$ 66,68 atau sekitar Rp 670 ribu per bulan)

Dulu Pakistan digadang-gadang menjadi kekuatan ekonomi baru dunia pada abad ke-21. Namun akibat perang dan konflik selama beberapa dekade, pembangunan di Pakistan terbengkalai. Akhirnya, perekonomian negara ini terperangkap di fase semi-industrialis. Meski di dalam negeri banyak masalah, tetapi orang-orang Pakistan di perantauan tergolong sukses. Lebih dari tujuh juta orang Pakistan ber-diaspora ke luar negeri, dan memiliki total pendapatan mencapai US$ 11,2 miliar.

Vietnam (US$ 66,26-94,66 atau sekitar Rp 670-950 ribu per bulan)

Vietnam merupakan negara favorit baru tujuan investor. Lembaga keuangan Goldman Sachs memperkirakan negara komunis ini akan menjadi perekonomian nomor 17 dunia pada 2025, dengan produk domestik bruto (PDB) sebesar US$ 436 miliar dan PDB per kapita US$ 4.357. Vietnam memiliki sejumlah sumber daya unggulan seperti beras dan bauksit. Kini, industri manufaktur (bahkan yang berteknologi tinggi) berkembang pesat di Vietnam.

Mongolia (US$ 87,39 atau sekitar Rp 880 ribu per bulan)

Mongolia di bawah kekuasaan Jenghis Khan menguasai hampir separuh dunia. Namun kini Mongolia adalah negara yang menggantungkan diri pada sektor peternakan dan pertanian. Bank Dunia menggolongkan Mongolia sebagai negara berpendapatan menengah-bawah, dengan 22,4 persen populasi hidup dengan kurang dari US$ 1,25 atau Rp 13 ribu per hari.
Halaman 2 dari 6
(DES/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads