Veteran Perang AS Ramai-ramai Berwirausaha

Habis Perang Terbitlah Wirausaha (1)

Veteran Perang AS Ramai-ramai Berwirausaha

Deddy Sinaga - detikFinance
Senin, 11 Nov 2013 10:17 WIB
Veteran Perang AS Ramai-ramai Berwirausaha
defense.gov
Jakarta - Meski sudah terjadi beberapa tahun lalu, Johnny Morris dan Brad Lang masih tak bisa melupakan peristiwa di Afghanistan itu. Kedua mantan anggota penjinak bom di kesatuan marinir Amerika Serikat itu terkena ledakan bom dalam penugasan keduanya di sana.

Morris kehilangan satu kakinya. Sedangkan dalam peristiwa lain, Lang malah kehilangan kedua kakinya. Trauma membekas dari peristiwa itu. Tapi alih-alih meratapi nasibnya yang jadi orang cacat, kedua eks marinir itu berhasil bangkit.

Morris dan Lang menggunakan ilmu yang mereka dapatkan di medan tempur untuk mendirikan sebuah perusahaan pembuat senjata api, Stumpies Custom Guns Inc di Swansboro. Tapi jalan untuk menjadi pebisnis tak datang tiba-tiba.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah masa dinasnya selesai, Morris dan Lang rupanya mengikuti program kewirausahaan yang digelar Sekolah Manajemen Whitman di Universitas Syracuse pada 2012.

Program itu terdiri dari satu bulan kursus online dan sembilan hari kamp di kampus Rochester, New York. Buat Morris dan Lang, kewirausahaan bukan dunia yang asing, sama saja seperti bertahan hidup di tengah medan tempur. “Kalian bertanggung jawab pada takdirmu sendiri, begitu juga berbisnis,” kata Morris, yang berusia 27 tahun.

Selepas dari dinas militernya, Morris dan Lang, yang berusia 28 tahun, memang sengaja tak melamar pekerjaan. Mereka bosan menjadi 'anak buah' yang selalu mendapat perintah tanpa dapat mempertanyakan.

Morris dan Lang tak berjalan sendiri di bidang wirausaha. Sebuah survei terbaru mengindikasikan semakin banyak veteran perang AS yang beralih menjadi wirausahawan. Pada tahun lalu persentasenya 7,1 persen, naik dari 4,6 persen pada 2008.
 
Rendahnya lapangan pekerjaan bisa jadi salah satu sebab. Ini menyebabkan angka pengangguran di AS masih di atas 7 persen sejak November 2008.

Alhasil, tak banyak pilihan bagi veteran perang seperti Morris dan Lang. Untungnya semakin banyak program training wirausaha yang digelar khusus untuk veteran militer. Salah satunya ya yang terjadi di Universitas Syracuse itu.

“Sudah tiga atau empat tahun terakhir ini kami fokus pada transisi eks militer menjadi warga sipil dengan mendidik mereka tentang kepemilikan bisnis,” kata Mike Haynie, Direktur Eksekutif Institute Veteran dan Keluarga Militer di Universitas Syracuse.

Tahun lalu Syracuse bekerjasama dengan Small Business Administration untuk menggelar program Boots to Business, sebuah inisiatif pelatihan di pangkalan militer. Syracuse juga bekerjasama dengan Google untuk membuat platform online bernama VetNet, yang menyediakan tool dan sumber daya untuk membantu veteran memulai bisnis mereka.

Tapi ada juga tren lain yang tak kalah menarik. Semakin banyak perusahaan waralaba yang membuat program wirausaha untuk veteran perang.

Perusahaan seperti 7-Eleven, Tim Horton’s, dan Aamco Transmissions, misalnya, menyediakan program waralaba dengan potongan harga besar-besaran bagi veteran perang yang mau berbisnis dengan mereka.

Menurut Asosiasi Franchise Internasional (IFA), sejak 2011 sudah ada 151.557 orang veteran perang atau pasangan mereka, yang terjun ke dunia waralaba. Malah, sebanyak 5.192 orang di antaranya menjadi pewaralaba.

Menurut Presiden IFA, Steve Caldeira, angka itu melebihi komitmen mereka pada pemerintah, yakni 80.000 veteran, personil yang terluka, maupun pasangan, pada 2014. “Kami akan terus mendukung transisi dari militer ke sipil maupun keluarga mereka,” kata dia.

Upaya dari IFA adalah bagian dari inisiatif bernama Joining Forces yang digagas oleh Gedung Putih. Target mereka merekrut 500 ribu veteran perang AS atau pasangan mereka, untuk terjun menjadi pebisnis, sampai 2014.

(DES/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads