Perang Lanjutan Veteran Tempur: Cari Kerja

Habis Perang Terbitlah Wirausaha (3)

Perang Lanjutan Veteran Tempur: Cari Kerja

Deddy Sinaga - detikFinance
Senin, 11 Nov 2013 14:08 WIB
Perang Lanjutan Veteran Tempur: Cari Kerja
AFP
Jakarta - Kapten Kevin Massengill sudah tujuh tahun bertugas penuh di medan perang, termasuk pertempuran di Irak dan Yordania. Di negara terakhir ini, Kapten Massengill melatih satu unit pasukan Yordania yang akan bertugas di Afghanistan.

Tapi kini, sebagaimana ribuan veteran lain, anggota Garda Nasional dari Kentucky itu harus kembali ke dunia sipil dan menghadapi pertempuran baru: menemukan pekerjaan lain untuk menghidupi keluarganya.

“Saya punya pengalaman dan pelatihan militer, tapi sulit bagi pemberi kerja untuk mengerti,” kata Massengill, 34 tahun, yang mempunyai istri dan bayi yang baru saja lahir. Dia bilang sulit sekali mencari pekerjaan di kota kelahirannya, Rineyville.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Massengill pun khawatir, pemberi kerja bisa kecewa berat di masa depan. Soalnya, sebagai anggota Garda Nasional, dia bisa kembali ditugaskan ke medan tempur.

Setelah lebih dari satu dekade perang di Afghanistan dan Irak, lebih dari satu juta veteran perang harus kembali ke dunia sipil. Tantangan terberatnya adalah menemukan tempat mereka di dunia kerja yang 'ganas'.

Angka pengangguran dari kalangan veteran itu mencapai 10,1 persen per September lalu, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja. Sedangkan persentase pengangguran di AS berada di angka 7,2 persen.

Persentase kurang lebih sama ada di Kentucky, di mana ada 39.302 veteran perang yang tinggal di sana. “Memang tak lagi seburuk dulu, tapi memang belum baik kondisinya,” kata Ted Daywalt, Presiden VetJobs, situs cari kerja khusus untuk veteran.

Masalahnya diduga ada kaitan dengan tingkat pendidikan juga. Contohnya Justin King, 28 tahun, dari Ashland. Dia 'pensiun' dari marinir pada 2008. Lantaran hanya lulusan SMA, dia butuh waktu yang lama untuk mendapatkan pekerjaan. Pengalaman militernya tiada guna.

“Saya kira mudah mencari kerja dengan latar belakang militer, ternyata sangat sulit,” kata King, yang kini sudah bekerja di pabrik Toyota di Georgetown.

Kebanyakan veteran pengangguran di Kentucky adalah anggota Garda Nasional. Mereka sulit mendapatkan pekerjaan karena status mereka sebagai tentara sipil yang bisa ditugaskan sekali dalam setahun.

Angka pengangguran di jajaran Garda Nasional Kentucky mencapai 13 persen. Memang, sudah turun dari 20 persen pada beberapa tahun sebelumnya. Sebanyak 8.000 anggota Garda Nasional dan Garda Nasional Udara di Kentucky dikirim ke medan tempur setidaknya tiga kali sehingga mereka harus meninggalkan pekerjaan asal dan pergi selama bertahun-tahun.

Memang, ada perlindungan buat anggota Garda yang sebelumnya sudah bekerja. Tapi itu tak jadi jaminan pada saat terjadi resesi ekonomi baru-baru ini. Banyak juga yang kehilangan pekerjaan karena perusahaannya tutup atau bangkrut. Masalah ekonomi juga ikut menjepit mereka.

Untungnya ada angin segar bagi mereka. Semakin banyak perusahaan waralaba maupun lembaga pendidikan wirausaha yang memberikan peluang bisnis bagi mereka.

Contohnya program Boots to Business yang digelar Universitas Syracuse di New York yang ditujukan bagi veteran cacat. Program serupa kemudian menular ke banyak universitas lain di seluruh AS.

Perusahaan waralaba seperti 7-Eleven, Tim Horton’s, dan Aamco Transmissions, misalnya, menyediakan program waralaba dengan potongan harga besar-besaran bagi veteran perang yang mau berbisnis dengan mereka. Begitu juga Starbucks.

Menurut Asosiasi Franchise Internasional (IFA), sejak 2011 sudah ada 151.557 orang veteran perang atau pasangan mereka, yang terjun ke dunia waralaba. Malah, sebanyak 5.192 orang di antaranya telah mewaralabakan bisnisnya sendiri.

(DES/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads