Komunitas MTB pertama dan terbesar di Indonesia adalah Jalur Pipa Gas (JPG) Mountain Bike yang berdiri pada tahun 2000. Sudah sekitar 3.000 orang menjadi anggota komunitas ini.
Salah seorang anggota JPG Mountain Bike yang cukup aktif adalah Eko Probo, yang sehari-hari berprofesi sebagai pengajar di sebuah universitas swasta di Jakarta. Pria berusia 43 tahun tersebut mulai gabung di JPG Mountain Bike pada 2003.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal yang membuat Eko jatuh cinta pada MTB adalah menawarkan adrenalin yang lebih. “Saya bisa bebas, karena MTB dimainkan di outdoor track. Itu kenikmatan yang tidak bisa dibeli, selain juga bagus untuk kesehatan,” ucapnya.
Sebulan sekali, Eko dan kawan-kawan komunitasnya pergi ke gunung untuk bermain sepeda. Gunung Gede-Pangrango dan Tangkuban Perahu menjadi tempat tujuan langganannya.
Selama bersepeda di pegunungan, Eko mengaku belum pernah mengalami cedera parah. Justru insiden terjadi ketika dia bermain di dekat rumahnya di kawasan Serpong.
“Kalau di gunung jatuh pasti pernah, tetapi hanya lecet atau malah tidak ada apa-apa. Di dekat rumah yang justru parah, saya terjatuh dengan muka lebih dulu mengantam tanah,” tutur Eko.
Demi menggeluti hobi MTB, Eko mengaku telah mengeluarkan dana puluhan juta rupiah. “Sekitar Rp 40-50 juta lah. Beli sepedanya saja sudah agak mahal,” ujarnya.
Hobi MTB, lanjut Eko, memang agak menguras dompet. Namun ini karena sepeda yang harganya agak lebih punya daya tahan yang bagus. “Komponennya saja mahal. Ini karena teknologinya modern,” tuturnya.
Eko optimistis hobi MTB tidak akan pernah surut. Penggemar MTB akan semakin bertambah dan komunitas pun berkembang. Indonesia juga memiliki kondisi alam yang mendukung dan menantang untuk dijelajahi dengan MTB.
Untuk menekuni hobi MTB, Eko berpesan hal yang paling utama adalah kesiapan mental. “Track itu tidak bisa diprediksi, mungkin saja habis hujan atau ada pohon tumbang. Kita harus siap mental untuk menghadapi segala kondisi,” tegasnya.
(DES/DES)











































