Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi menuturkan, ada sebab utama yang membuat harga daging sapi masih mahal, salah satunya tersendatnya pemasukan impor sapi siap potong.
"Jadi ada kaitannya (tingginya harga daging sapi) sampai hari ini, kira-kira yang sudah datang yang sapi siap potong dari 75.000 ekor (izin impor sapi siap potong yang dikeluarkan di kuartal IV/2013) itu baru 36.000-an. Yang sudah terpotong baru 6.600 ekor. Nah ini yang agak tertahan, ini akan kita minta untuk didorong," kata Bachrul saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Jumat (15/11/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sampai akhir bulan nambah lagi dari 16.000 ekor jadi 24.000 ekor. Kita mau minta semua yang 36.000 ekor itu dipotong sampai akhir bulan ini. Kekurangan inilah yang kirakira menyebabkan harga belum bisa turun, nah inilah yang kita dorong," tambahnya.
Lalu Bachrul juga meminta para pengusaha untuk melakukan cek dan ricek kegiatan pemotongan sapi di Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Cara ini dilakukan agar penjualan daging sapi dalam bentuk karkas (daging plus tulang) bisa dikontrol.
"Kemarin kita juga sudah rapat dengan yang besar-besar (perusahaan). Kita juga meminta bantuan kepada mereka untuk memantau RPH. Mereka juga nggak boleh angkat tangan untuk menstabilisasi harga dan komitmen mereka ingin membantu juga dan ada exercise kontrol untuk mengambil keuntungan yang wajar," katanya.
(wij/dnl)











































